12 Days to Move On (part 1)

January 29, 2016

Aku yang tak menginginkan perpisahan, salahkah jika aku mencoba untuk mempertahankan? Aku yang begitu menyayangimu, salahkah jika aku kembali mempertanyakan apa alasan dari perpisahan ini? Aku hampir tak mengerti dengan pola pikirmu. Kedekatan kita hampir berlangsung 3 tahun dan dengan singkatnya kamu mengakhiri.

Untuk alasan keyakinan kita yang berbeda. Aku dengan tasbihku, kamu dengan salibmu. Tapi kenapa baru sekarang sayang? Kenapa kamu baru mempermasalahkannya sekarang? Di awal perjumpaan kita, kita pernah berkomitmen untuk tetap bersama tanpa perduli apa kata orang tentang keyakinan kita. Kita hanya berjalan sesuai kata hati kita yang saling menyayangi. Apa itu salah?

12 hari untuk move on

Getar handphone yang mengagetkanku pukul 3 pagi itu masih menghantui pikiranku. Aku masih sangat ingat betapa pesanmu kali ini justru membawa kepedihan yang amat dalam. Meskipun aku harusnya sudah terbiasa dengan kebiasaanmu itu, kamu yang selalu membangunkanku untuk segera mengambil air wudhu dan bergegas shalat malam. Entah mimpi apa yang datang dalam tidurku semalam, hingga hari itu nada tanda pesan masukku terdengar begitu menyayat hati. 
"Rinda, maaf. kita gak bisa terus kayak gini. semuanya selesai ya? aku mau kita putus. terima kasih untuk tiga tahun yang takkan terlupakan ini."

Aku berharap aku masih bermimpi ketika membaca pesanmu itu, namun sayangnya aku telah benar-benar dalam keadaan sadar. Apa yang kau pikirkan hingga kamu mengambil keputusan yang begitu ceroboh ini? Tanpa penjelasan panjang kamu mengakhiri ini semua. Hanya karena keyakinan kita yang berbeda ini yang kau jadikan alasan untuk pergi. Aku bisa apa? Aku yang terlalu mencintaimu, mana mungkin bisa secepat kilat melupakanmu dan semua kenangan yang sudah tercipta.
 
Aku terus menghubungimu tapi tak ada satupun respon baik yang ku terima. Aku bagai sampah yang sengaja kau buang jauh tanpa ingin kau pungut lagi. Aku mencoba menghampirimu, tapi kau tak pernah menampakkan diri. Rumahmu selalu sepi, seakan kau tahu akan kedatanganku.

Aku masih terus bertahan disana. Tak perduli dengan teriknya matahari yang begitu menyengat di kulit, aku  akan menunggu hingga kamu keluar dan menjelaskan apa yang salah dariku hingga kamu mencoba keluar dari lingkaran hidupku. 
Satu hari, dua hari, tiga hari, setiap pulang sekolah selalu aku sempatkan untuk datang ke rumahmu.
"Aku pulang telat Ma, ada bimbingan" sms ini ku kirim untuk mama agar tak cemas memikirkanku.
Apa kamu tidak lihat usahaku ini? Aku sampai rela berbohong pada orangtuaku demi ingin bertemu denganmu. 
Aku berusaha menyamakan dengan jam pulangmu. Aku hafal kapan kamu sampai di rumah seusai kuliah. Tapi semua terasa sia-sia. Sekencang apapun motor yang ku kendarai, sampai detik ini aku belum berhasil menemuimu. 
Jum'at ini, hari keempat aku menunggu kepulanganmu. waktu masih menunjuk angka 11. Sepertinya aku terlalu cepat sampai. Ku parkir motorku tepat di depan pagar rumahmu dan mulai duduk. Kamu yang akan pulang pukul 1, kali ini aku berharap bisa mendapat penjelasan darimu. 

Langit mulai gelap, sepertinya akan turun hujan sebentar lagi. Ku lihat jam tanganku sudah pukul tiga sore. Kamu tak menampakkan diri lagi. Aku pulang dengan rasa kecewa yang kian membesar. Air mataku tak henti-hentinya menetes. Mataku menjadi semakin sipit karena tangis ini. Tapi aku masih belum menyerah, aku akan datang lagi besok dan tetap menunggumu.

Hari kelima penantianku kamu masih belum membalas satupun pesan singkatku. Keesokan harinya, masih di depan rumahmu, berkali-kali aku mencoba meneleponmu tapi tak juga kau angkat. Whatsapp, BBM,  Facebook Messager, Mention Twitter, aku harus gunakan aplikasi yang mana agar kamu mau menggubrisku lagi? Haruskah aku mengirim surat padamu? Atau dengan telepati?

Sudah seminggu, aku menantimu dan kamu benar-benar menghilangkan jejak.

"Cari siapa ya, Non? Ibu lihat dari kemarin nungguin terus disini?"

Perempuan itu sedikit mengagetkanku, entah darimana datangnya, sepertinya dia mengawasi apa yang ku lakukan selama ini.

"Ehh iya Bu, ini lagi nyari Rian"
"Udah coba pencet bel rumahnya?"
"Udah Bu, tapi gak ada respon"
"Wah, apa mungkin dia ikut orang tuanya ya?"
"Ikut orang tuanya? Maksudnya? Ikut kemana? Apa mreka pindah?" tanyaku makin penasaran. Apa iya karena kepindahannya ini dia memutuskanku. 

"Kayaknya enggak kalau pindah, Ibu cuma tahu katanya ada saudaranya yang di Bali sakit. Pas mobilnya berangkat semua memang kliatan naik, tinggal Rian sendirian yang gak ikut, harusnya sih dia ada di rumah"

Syukurlah, ternyata dia masih disini. Lagipula jika dia pindah bagaimana dengan studinya disini. Kuliahnya baru masuk semester satu. Dan jika dia memang berada di rumah, mengapa dia tidak keluar menemuiku atau bahkan tak ku jumpai dia pulang dari kampusnya. Kemana kamu sebenarnya?
Hari kedelapan, kesembilan, kesepuluh, kesebelas dan tak terasa dua belas hari sudah aku selalu berada di depan rumahmu. Tak ada hasil nyata dari penantianku selama itu. Aku tak berhasil membawamu kembali dalam pelukanku. Tempatmu untuk pulang bukan lagi padaku. Kenapa ini terjadi setelah tiga tahun kebersamaan kita? Tiga tahun itu bukanlah waktu yang singkat sayang. Secepat itukah kamu bisa menghapus semua kenangan di dalamnya?

12 hari untuk move on

Aku tersimpuh di dekat pagar rumahmu. Aku tak lagi punya daya untuk berdiri menopang tubuhku. Hatiku telah hancur dengan cerita yang kau cipta ini. Aku tak lagi perduli dengan kerasnya petir yang mulai menyambar. Aku tak perduli jika hujan deras akan turun. Mungkin lebih baik begitu, biarkan hujan menenggelamkan aku dengan kisah pahit ini sekalian. Semangatku sudah hilang, jadi untuk apa aku bertahan. 

Rintik hujan benar berubah menjadi semakin deras. Tubuhku mulai basah dan kurasakan dingin yang begitu menusuk sampai ke tulang. Aku seperti orang gila, atau mungkin memang sudah gila? Sama sekali aku tak ingin beranjak pergi berteduh. Siapa perduli jika hujan kali ini akan membuatku sakit? Derasnya hujan semakin deras pula tangisanku. Aku tak mampu lagi membayangkan hari-hariku tanpa orang yang begitu aku sayangi.
"Kamu waras gak sih, ujan gini malah semedi disini?"
Hujan masih belum reda, tapi aku tak lagi merasakan tetesannya membasahi diriku. Aku melihat keatas dan ada seseorang sedang memayungiku sekarang.

"Kamu ngapain sih, kamu bisa sakit. Ayo sini ikut aku"

"Rian?"

Aku tak menolak gandengan tangannya, laki-laki ini berusaha membawaku berteduh di sebuah pangkalan ojek. Demi memayungiku, kini justru dia yang hampir basah karena hujan.

"Kamu ini kenapa, hhah?"

Dia terus memberiku pertanyaan, tanpa mampu aku menjawabnya. Aku benar-benar kedinginan sekarang. Pikiranku semakin kacau dengan kehadiran laki-laki ini. Sungguh bukan Rian ini yang aku harapkan datang. Bukan Rian teman sekelasku. Aku mengharap Rian kekasihku. Mataku semakin berat, wajah Rian makin samar-samar ku lihat.

"Aku mau Rian pacarku" ucapku lirih.

"Rin! Rinda! Rin bangun Rin. Rinda jangan becanda dong,gak lucu ihh! Rin bangun! Jangan pingsan! Rindaa!"


Share this

Related Posts

Previous
Next Post »