12 Days to Move On (part 2)

January 31, 2016
Cerita Sebelumnya: 12 Days to Move On (part 1)

"Dimana aku?"
Tubuhku masih menggigil kedinginan, aku tak tahu apa yang baru saja terjadi hingga aku harus terbaring sekarang.
"Kamu di rumahku Rin, aku bingung mau bawa kamu kemana. Mau aku pulangin takut mama kamu marahin aku nanti."
Rian, aku mengingatnya sekarang. Sebelum ini aku sempat menatap wajahnya yang basah karena guyuran hujan. Dia berusaha meredakan hujan dengan payungnya untukku. Aku masih ingin menangis mendapati kenyataan ini, Rian yang aku harap datang justru benar-benar hilang dari pandangan.

"Kamu kenapa sih Rin? Kenapa kamu nyiksa diri kamu sendiri?"

Isak tangisku masih tersisa, aku tak sanggup lagi menahan pedih ini sendiri. Aku mencoba bangun dari tidurku. Menatap laki-laki yang sedari tadi menunggu penjelasan dariku. Ku rengkuh tubuhnya yang tegap itu, aku luapkan kesedihanku dalam pelukannya. Rian pun merespon. Tangannya berusaha mendekapku erat namun tak menyakitkan, dia juga membelai rambutku yang sebenarnya masih basah.

"Nangis aja yang kenceng sekalian kalau kamu emang sedih, tapi sekali aja! Jangan sampai kamu menangis berulang-ulang untuk kesedihan yang sama" 

Kalimat Rian begitu halus mendarat di telinga, seakan aku mulai menemukan keteduhan lagi. Aku biarkan diriku larut dalam pelukannya meski air mata terus menetes bahkan suara tangisku hampir tak terdengar. Aku memang sedang membutuhkan bahu untukku bersandar, dan laki-laki ini bersedia basah bajunya demi menenangkanku.

***

Semangatku masih belum kembali sepenuhnya. Setelah kejadian kemarin, aku seperti tak ingin melanjutkan hidup lagi. Rutinitas di sekolah juga pasti akan membosankan.

"Pagi Rinda, udah baikan?" sapa laki-laki yang sudah tidak asing bagiku. Rian, siapa lagi jika bukan dia.

Aku masih tidak mengerti dengan laki-laki ini, entah sudah berapa kali aku tak pernah menggubrisnya ia tetap saja tak perduli dengan penolakanku.

"Hai, iya pagi. Udah mendingan kok. Paling ntar jadi kena flu tapi gak apa-apa. By the way makasih ya kemarin"
"Iya sama-sama. Alhamdulilah deh kalau kamu baik-baik aja. Aku pikir kamu bakal gak masuk sekolah hari ini. Aku takut kalau sampai kamu sakit gara-gara aku kemarin"
"Hhah? Takut? Kok bisa? Kalaupun aku sakit itu emang udah dari sananya kali' bukan karena kamu"
"Ehmm iya deh"

Wajah Rian nampak lesu setelah mendapati perhatiannya justru mendapat respon ketus dariku. Dia berbalik dan pergi menuju bangkunya. Aku masih tidak terima dengan ini semua. Aku rindu Rianku, bukan kamu.

***
Aku bersyukur hari ini berlalu dengan sangat cepat bahkan sebelum bel pulang berbunyi. Aku ingin kembali ke rumah itu dan berusaha menemukan Rianku.

"Rinda?" panggil seseorang dari belakang.
Aku menoleh dan sudah tidak ada siapapun di kelas ini selain aku dan Rian.

"Iya kenapa?"
"Kamu masih mau balik nunggu di depan rumah Rian itu lagi?"

Astaga. Apa anak ini punya indra keenam hingga dia tahu niatku.
"Kamu mau tahu aja sih sama urusanku?"
"Bukan aku mau ikut campur, tapi aku emang berusaha merhatiin kamu dari dulu. Kamunya aja yang gak peka.  Ya aku paham sih itu semua karena kamu punya pacar. Pastinya kamu juga sayang sama dia jadi kamu gak perduli lagi sama orang lain di sekitar kamu. Tapi kalau aku boleh saran Rin, buat apa kamu nungguin dia lagi yang udah gak mengharapkan kamu lagi? Udah dua belas hari kamu nungguin dia dan apa hasilnya? Dia gak muncul, bahkan dia gak perduli disaat kamu kepanasan kehujanan sampai pingsan kemarin."

Rian tahu darimana jika aku sudah menunggu selama itu. Apa dia mengikutiku selama ini?

"Aku gak sanggup liat kamu harus berjuang sendirian demi cintamu itu. Please Rin, coba kamu buka hati kamu untuk orang yang benar-benar sayang samu kamu tulus, aku misalnya"

Degg. Ucapan Rian begitu menghantam keras tepat ke jantungku dan serasa membuatnya berhenti berdetak.

"Aku udah lama suka sama kamu Rin, tapi aku tahu kalau kamu sudah punya pacar. Aku gak berani ngungkapinnya karena aku gak mau ngrusak hubunganmu. Andai aja kamu tahu, aku selalu stalking semua medsos kamu. Aku selalu ingin tahu apa yang kamu lakukan. Selama ini aku mencoba merhatiin kamu dari jauh. Disaat kamu posting status bahagia dapet surprise dari pacar kamu aku pun ngrasain bahagianya, tapi di saat kamu sedih, hati aku juga nangis ngliatnya"

Rian tak memberiku kesempatan untuk menjawab semua pernyataannya ini, dia terus meracau mengungkapkan perasaannya. Kali ini dia semakin mendekat, dia memegang tanganku dan menatapku.

"Aku sayang sama kamu Rinda, aku gak mau ngliyat kamu sedih. Tolong jangan kesana lagi! Aku udah gak sanggup liat kamu tersiksa seperti ini, ijinin aku untuk ngobati lukamu itu"
"Aku gak tau Yan, aku gak pernah nganggep ada yang lebih diantara kita berdua. Aku sayangnya sama Rian pacarku bukan kamu"
"Iya aku paham kok. Aku gak akan nuntut kamu untuk nglupain dia tapi aku akan berusaha untuk membuat kamu bisa sayang sama aku, aku akan balikin senyum di wajahmu yang udah lama gak aku lihat"
"Makasih, aku pulang dulu"
"Beneran pulang kan? Gak nungguin di rumahnya dia lagi?"
"Langsung pulang, aku udah mertimbangin omongan kamu udah cukup nunggunya"
"Sipp. Gitu dong! Yaudah aku anter ya?"
"Ngapain? Gak usah! Aku kan bawa motor"
"Ya gak apa-apa kan, aku ngikutin kamu di belakang. Buat jaga-jaga kalau nanti kamu kenapa-kenapa di jalan sekalian mastiin kalau kamu gak ke rumah Rian itu lagi"
"Kayak anak kecil aja. Terserah deh"

***

Entah sudah berapa hari sejak kejadian itu, aku tak lagi menghitungnya. Aku mulai terbiasa dengan ketidakhadiran Rian. Tanpa berlama-lama aku pun memutuskan untuk menjalin kedekatan yang lebih dengan Rian yang baru. Meski sebenarnya hatiku belum sepenuhnya bisa menerima ini, hatiku masih tetap mencintai Rian Pradana bukan Rian Jatmiko. 

"Kamu gak tambah sakit ya, statusnya pacaran sama aku tapi hati pikiranku semuanya masih untuk Rianku?"
"Sakit jelas lah, tapi aku yakin suatu saat nanti kamu akan bisa nrima aku dan gak banding-bandingin aku sama Rianmu lagi"

Betapa tulusnya cinta Rian, aku sungguh merasa bersalah terhadapnya. Bagaimana bisa aku melukai perasaannya dengan terus menyamakan dia dengan Rianku. Dia sungguh telah berusaha keras demi mencuri perhatianku. Dia telah mengembalikan senyum dan tawa di hidupku. Ada keceriaan lagi setelah kehadirannya. Dan satu hal yang penting, pesannya setiap pagi kali ini berbeda dengan Rianku dulu.

"Pagi sayang. Udah bangun? Cepet bangun gih kalau belum. Kita sholat subuh dulu."

Terlihat jelas kan perbedaannya? Papaku pun lebih setuju dengan hubunganku kali ini. Dia yang seorang pemuka agama merasa sangat beruntung jika calon suamiku merupakan seseorang dengan latar belakang agama yang sangat kuat.

"Jaga baik-baik pacarmu yang sekarang ini, kan bagus nanti dia bisa bimbing kamu. Gak kayak yang sebelumnya. Tiap minggu kamu harus nungguin dia sembahyang di gereja sementara kamu lima waktu ke masjid. Papa kan sudah pernah bilang, jalan kamu tuh berbeda sama dia"

Aku benci jika Papa masih harus mengungkit tentang Rian. Bagaimanapun usaha orang-orang untuk membuatku lupa dengan Rian tidak akan pernah berhasil. 

Dua bulan berlalu, aku salah dengan tafsiranku dulu.  Begitu gigihnya usaha Rian yang baru nampaknya mampu membuatku luluh. Sudah cukup aku menduakannya, dia tak pantas mendapatkan perlakuan ini dariku. Dia harusnya mendapat cinta yang sama dariku. Aku harus mulai untuk tidak mengingat Rian lagi, karena sampai detik ini pun dia tak juga muncul memberi kabar.

Hari-hariku sangat indah, ku lewati semuanya berdua dengan Rian yang baru. Aku bahagia karena akhirnya aku tak lagi berjuang sendirian demi cinta. Langkah kami pun sama setiap kali terdengar adzan. Aku mulai menyayanginya. Aku telah berhasil move on dari Rian, bahkan mungkin sejak pengungkapan pertama Rian setelah dua belas hari penantianku dulu. Kehadirannya menyuguhkan cinta yang berbeda.
 ***

Kriing.. Kriing
Ponselku berbunyi di tengah-tengah waktuku sedang berdandan. Hari ini Rian mengajakku untuk nonton. Aku harus tampil cantik malam ini di depannya.

"Aaaaa Rian" gumamku girang.
"Haloo sayang, udah mau jemput kah? Lima belas menit lagi ya, aku masih belum selesai dandannya"
"Gak usah lama-lama, kamu tuh udah cantik"

Wait. Ini bukan suara Rian. Aku melihat ke layar ponselku, terpampang jelas nama "Rian P :*". Astaga Rinda, kenapa emoticon titik dua bintang itu belum kamu hapus. Dan kenapa kamu gegabah menganggap itu Rian kekasihmu sementara jelas disitu tertera "Rian P :*" bukan "Rian J :*"

"Ohh, kamu. Ada apa?" aku tak lagi tertarik dengan percakapan ini.
"Kok jadi gitu sih, padahal tadi semangat banget"
"Iya karena aku kira yang telpon Rian pacarku"
"Kan aku sayang Rian pacarmu"
"Oh ya? Kamu pacarku, terus yang tiga bulan lalu mutusin aku itu siapa ya? Apa ada Rian yang lain lagi? Kamu udah jadi mantan sekarang. Kalau kamu balik dan ngaku kamu masih pacarku, kemana aja kemarin-kemarin?"
"Maafin aku sayang, aku bisa jelasin. Tapi gak di telpon ya, aku pingin kita ketemu karena aku juga udah kangen banget sama kamu"
"Gak bisa, aku udah ada janji hari ini"
"Yaudah besok deh, sepulang sekolah. Aku jemput ya"
"Jangan! Tentuin aja dimana tempatnya, kita langsung ketemu disitu"
"Ok, ntar aku sms-in"

Apa lagi sekarang? Disaat aku sudah bisa menerima dia, masa laluku justru kembali. Suara motor Rian sudah terdengar. Sudah bisa di pastikan aku takkan bisa menikmati perjalananku hari ini. Aku masih terbayang akan telpon Rian tadi. Apa yang akan dia sampaikan besok?

***

Restoran favorit kita berdua dulu yang menjadi pilihannya. Dia sampai lebih cepat dari aku rupanya. Dengan kemeja pemberian dariku dulu pada saat ulang tahunnya. Dia masih sama, masih tetap tampan seperti sebelumnya. Anganku kembali membayangkan semua kenangan yang pernah tercipta bersamanya dulu. Kurasakan degup jantungku yang tak karuan seperti saat menatapnya pertama kali. Kenapa ini? Mungkinkah sebenarnya aku masih menyayangi pria ini. Aku sudah semakin dekat dengan kursi tempat ia duduk. Rian berdiri seakan ingin menyambutku. Dia meraih tanganku dan mencium pipi kanan kiriku. Aku tak mampu menolak. Dia pun memundurkan kursi dan mempersilahkan aku duduk.
"Hai sayang, kamu apa kabar? Ini aku udah pesenin Chocolate Float kesukaan kamu"
Oh God, dia pun masih mengingat apa yang menjadi menu favoritku. Aku seperti berada dalam ruang tanpa oksigen sekarang. Dadaku sungguh sesak menghadapi kenyataan seperti ini.
"Kamu mau ngomong apa?"
"Langsung aja? Gak mau tanya kabar aku dulu gitu?"
"Yaudah kamu apa kabar?"
"Gak ikhlas banget, aku gak baik. Aku sakit karena nahan rindu ke kamu"
Sungguh aku tak mengerti dengan apa yang ada dalam pikiran Rian, jika dia pun merindukanku, untuk apa ada kata "Putus" waktu itu.
"Maafin aku sayang, aku gak ada niat untuk mutusin kamu beneran. Aku cuma mau ngetes kamu aja. Kira-kira kamu gimana kalau gak ada aku. Dan hasilnya? Aku kecewa sama kamu sayang, kamu justru udah punya pacar lagi."
Ini tamparan yang kedua untukku, dengan santainya kamu menjelaskan bahwa ini cuma permainanmu. Sebercanda itukah perasaan sayangku di matamu? Aku semakin bingung, aku tak tahu apakah aku harus marah, sedih atau justru menyesali perbuatanku.

Aku pernah sangat mencintaimu Rian, namun semua terhapus begitu saja saat kau mengucap kata perpisahan. Dan di saat aku mulai menyayangi seseorang yang baru kau malah hadir kembali bersama dengan satu penjelasan bahwa yang lalu itu hanyalah ujian. Kamu tak benar-benar pergi saat mengucap perpisahan itu, namun kamu akhirnya pergi karena aku tak bisa menjaga kesetiaan ini.

Tapi? Apa ini salahku? Aku pernah menunggumu tanpa lelah namun tak kau hiraukan. Memangnya ini juga bukan salahmu? Siapa yang menyuruhmu membuat satu kebodohan seperti ini. 

"Sekarang kita bener-bener gak ada hubungan apa-apa lagi. Aku doakan kamu bahagia dengan dia yang baru"

Kamu pun berlalu meninggalkanku yang masih tercengang dengan kenyataan ini. Kamu meninggalkanku sendirian. Kamu membiarkanku meneteskan air mata lagi tanpa ada tanganmu yang menghapusnya.

"I love you Rian, I love you"
Tangisku pecah, aku tak tahu lagi apa yang akan terjadi selanjutnya.



dari mantan kekasihmu,
yang masih mengharap keajaiban untuk kita bisa bersatu kembali.
loading...

Share this

Related Posts

Previous
Next Post »