Bukan Hartamu

January 05, 2016
cintaku bukan karena hartamu


Hari ini adalah hari pertama dimulainya kegiatan belajar mengajar setelah libur panjang. Sayangnya awal dari segala sesuatu yang baru ini tidak disambut baik oleh Jasmine. Apa yang terjadi? Dia justru memulai harinya dengan ditabrak oleh cowok yang masih asing baginya.
“Hehh, kalau jalan liat-liat dong, jangan merem aja!” teriak Jasmine kesal
“Maaf ya, aku gak sengaja, keburu nih soalnya” jawab cowok itu
“Buru-buru sih ya buru-buru tapi gak usah nabrak orang gitu juga kalii”
“Ya deh iya, aku kan udah minta maaf, kenapa masih marah sich? Masa’ cantik-
 cantik jutek”
“Arghh sudah, mendingan kamu pergi sebelum aku makin marah nih”, bentak Jasmine


Tak lama kemudian muncul sahabatnya Anjani, ternyata ia telah memperhatikan gerak gerik Jasmine dari tadi.
“Kamu kenapa sih pagi-pagi udah kusut begitu mukanya??”
“Abis gimana gak jengkel coba’? kamu liet deh cowok yang jalan kearah kelas itu,   ampun dah, siapa dia sih? x.x”
“Ohh itu, denger-denger sih katanya murid baru. Kenapa? Kamu naksir ya?”
“What? Apa kamu bilang??? Naksir?? Khayal !!! kayak gak ada cowok laen aja, ogah banget deh ya jadian sama cowok sok cool, liet aja tuh lagaknya, kayak dia paling ganteng aja.”
“Tapi emang dia ganteng kan?”
“Whatever, sudah ah, yuk masuk kelas! Ntar telat lagi…”
Bel masuk pun berbunyi, semua sudah siap di tempat duduk masing-masing. Bu rike langsung memulai pembicaraan tak seperti biasanya, kali ini Bu Rike ingin memperkenalkan murid baru terlebih dahulu. Setelah diminta masuk, muncul dari balik pintu sosok pria yang tampan, gagah, rapi, perfect lah. Sehingga membuat para wanita terperangah kagum. Tapi, Jasmine justru mengeluh kecewa, karena ternyata cowok yang tadi menabraknya malah ada dalam satu kelas yang sama.
“Silahkan kamu memperkenalkan diri terlebih dahulu !!” pinta Bu Rike
“Terima kasih bu. Well, kenalkan nama saya Reno. Saya pindah kesini karena ikut orang tua saya yang pindah tugas dari Kalimantan” jelas laki-laki itu dengan senyum ramah.
“Ok Reno, please sit down !! Well class, let’s start our lesson today!”
***
Pelajaran hari itu pun telah selesai, bel tanda pulang berbunyi. Seperti biasa, perjalanan pulang selalu diisi dengan cerita menarik yang terjadi selama jam sekolah berlangsung. Dikarenakan rumah Jasmine dan Anjani yang juga berdekatan, tak bosan mereka selalu pulang bersama. Kali ini topik mereka yakni membahas murid baru yang berhasil membuat Jasmine bencinya setengah mati.
“Aku gak abis pikir deh, kenapa aku bisa satu kelas sama tuh cowok? Mimpi apa aku sampai harus ketemu orang se-rese’ dia” batin Jasmine dalam hatinya
“HHEYY,,” kata itu seakan membuyarkan lamunan Jasmine
“Kamu mikirin apa sih? Pasti Reno? Iyaa kan??” ucap Anjani lagi
“Gak usah sok tahu deh !!”
“Halaaa, bilang aja kamu suka, keliatan tauk dari muka kamu, kalau kamu beneran suka bilang aja sama aku, nanti aku comblangin deh”
“Suka??? Dalam mimpi… yang bener aja dong, masag iya aku suka sama dia, udah ketauan kalo dia itu nyebelin”
“Masa’ sih?? setahu aku, dia itu orangnya baik, setia, perhatian, pengertian, tipe cowok penyayang, alim udah gitu ganteng, tinggi, tajir, perfect lah pokoknya. Dan menurut aku, dia cocok buat jadi pacar kamu. Apa kamu pengen terus-terusan jomblo?”
“Anjanii, dibayar berapa kamu sama dia? Segitunya banget kalo muji, tapi makasih ya nasihatnya, kalo menurut aku lebih baik aku jomblo dari pada nanti jadian tapi aku harus ditabrak mulu’ tiap pagi.”
“Yaelaah, masa’ cuma karena tabrakan kamu sampai benci banget gini sih, dia pasti gak sengaja tadi”
“Terus aja bela dia! Sekarang terserah ya, mau dia sengaja atau enggak tetep aja sakit kalo di tabrak”
“Kalo yang nabrak cintanya?? Gimana?”
“Dihh ,ini anak apaan sih? maksa banget. Kalo kamu suka ambil aja !”
“Wooo, enak aja maen ambil, aku kan sudah punya Leon, gimana sih? tapi hati-hati lo ya, biasanya nih, orang yang pada awalnya benci bisa aja ntar jadi suka loo”
“Kan masih biasanya :p”
“Bbeuhh,, ini anak di kasih tahu susah amat yak”
Hahahahaha :D
***
Hari demi hari berganti, dan tidak ada kata ‘Damai’ untuk Jasmine dan Reno. Selalu saja ada yang diributkan, walau cuma hal sepele. Namun, lambat laun semua itu berubah. Perasaan benci berubah jadi sayang. Bisa dibilang perkataan Anjani telah menjadi kenyataan. Sebenarnya Reno sudah menyukai Jasmine sejak pertama kali bertemu, tepatnya saat mereka bertabrakan itu. Hanya saja gengsi mau mengutarakan karena melihat sikap Jasmine yang begitu acuh. Bosan melihat sikap Jasmine dan Reno yang jadi malu-malu mau, Anjani dan Adit sahabat Reno bermaksud ingin menjodohkan mereka berdua. Usaha yang tak sia-sia, karena tak lama kemudian Jasmine dan Reno pun benar jadian.
Kini tak ada lagi pertengkaran, hanya cinta, kasih dan sayang yang mewarnai hari-hari mereka berdua. Sesekali sih pernah ribut tapi ya sekedar bercanda. Sampai pada keributan yang entah mengapa alasannya, pada saat jam istirahat --
“Sayang? Pernah kepikiran gak sih kok bisa gitu kita sampe pacaran? Padahal tadinya kita musuhan” ucap Jasmine memulai pembicaraan hari itu
“Udah takdir” balas Reno singkat
“Kamu sayang sama aku apa enggak?”
“Sayang”
“Dari tadi jawabnya kok itu-itu aja sih, serba singkat, kenapa?”
“Ngapain di jawab panjang-panjang kalo bisa pendek”
“Erghh dasar x.x “
Sudah hampir dua bulan hubungan mereka berjalan. Tetapi entah mengapa keharmonisan itu mulai tak terlihat. Nyala api cinta yang membara kini mulai padam. Cahaya kasih yang terang menjadi redup. Bunga-bunga asmara yang tumbuh bersemi, layu lah kini. Semua berubah seiring berjalannya waktu. Jasmine mulai kesal dengan sikap Reno sekarang. Wajah tampan dan gaya yang menawan telah membuatnya menjadi lelaki playboy. Banyak wanita yang mengantri untuk mendapatkan cintanya. Kesetiaan telah hilang, tergantikan oleh dusta. Kata ‘PUTUS’ pun mengakhiri tulus cinta Jasmine untuk Reno.
Berhari-hari Jasmine menunggu datangnya cinta sejati, namun tak ada yang kunjung menghampiri. Hingga terdengar kabar bahwa Reno kini telah mempunyai pengganti Jasmine. Banyak yang berpendapat kalau Alina pacar baru Reno itu jauh lebih perfect dibanding Jasmine. Tentu saja Jasmine marah,ia hanya minta putus baik-baik dengan Reno, tak harus membanding-bandingkannya dengan Alina itu. Perasaan Jasmine makin tak karuan ketika mengetahui bahwa Reno tak lagi menjadi seorang ‘Player’.
“Ni, nyebelin banget sih Reno itu. Masa’ dia berubah jadi tambah perhatian gitu? Kenapa coba’ baru sekarang dia jadi kayak gini? Kenapa gak waktu pacaran sama aku dulu??”
“Udahlah, yang sabar aja ya! Memang jalannya harus seperti ini, mau gimana lagi, just go on!!” kata anjani menyemangati


Hubungan Reno dengan Alina jauh lebih lama daripada dengan Jasmine dulu. Walaupun demikian Jasmine berusaha menyembunyikan rasa irinya. Namun, meski Reno bertahan lama dengan Alina, ia justru kehilangan sahabatnya Adit. Adit tak mau lagi berteman dengannya, karena tidak terima dengan kelakuannya yang menyakiti Jasmine.
                                                            
                                                         *** 
Suatu hari Reno terlihat sangat resah, ia duduk menyendiri di bangku halaman belakang sekolah. Disaat yang bersamaan Jasmine yang sedang berjalan mengelilingi sekolah menemuinya sedang termenung. Jasmine pun mendekat dan ingin mengetahui apa yang sedang terjadi padanya.
“Haii, boleh duduk?” Tanya Jasmine meminta izin
“Oh ya, tentu saja, silahkan !” Reno menjawabnya dengan terbata-bata
“Maaf ya sebelumnya, bukan maksud aku untuk ikut campur urusan kamu, tapii,, aku cuma mau tahu, kamu ngapain kok menyendiri disini?”
“Yaelaah, mau tanya gitu aja pengantarnya segitu panjang”
“Ya daripada kamu tersinggung nanti”
          Ahhahahhhahahaha … sejenak mereka tertawa bersama
“Jasmine,? Kamu nyesel gak putus sama aku?” Tanya Reno kembali memulai percakapan
“Emm….. emmm… a.. aa… akuu.. kenapa.. kenapa kamu tiba-tiba tanya kayak gitu?”
“Aku cuma pengen tahu aja, karena aku nyesel udah mutusin kamu. Aku salah udah nglepas kamu dan lebih milih Alina. Ternyata dia cewek matre, dia cuma ngincer kekayaanku aja”   
“Huss,.. gak boleh ngomong gitu, belum tentu dia kayak gitu, mungkin aja dia punya alasan kenapa dia beberapa hari ini selalu manja ke kamu minta ini minta itu”
“Belum tentu gimana, udah jelas semuanya. Aku liat sendiri ternyata selama ini dia sudah punya pacar, lebih ganteng dari aku sayangnya sih miskin. Aku juga punya buktinya kalau Alina bukan cewek baik-baik’
“Jangan asal ng’judge deh, dia pasti punya alasan untuk semua ini”
“Iyaa, alasan kenapa nrima aku walaupun sudah punya pacar karena aku kaya, misal enggak, dia juga gak mau, orang dia anggep mukaku masih kalah ganteng sama pacar simpenannya itu.”
“Udah deh, itu cuma perasaan kamu aja karena terlalu banyak yang kamu pikirin  sampe-sampe kamu ngaco ngomongnya, mending sekarang kamu ajak Alina ngomong baik-baik”
“Tapi….”
“Sudah ! Daripada hubungan kalian nggantung gini, ajak ngobrol gih dia kamu tanya langsung kenapa alasannya, kali aja dia kayak gitu juga karena sikap kamu yang salah ke dia, mungkin aja kan?”
“Iya ya?? Kenapa aku gak kepikiran bahas ini langsung sama dia, malah aku pikir sendiri sampai negative thinking ke dia, makasih ya, kamu mau denger aku curhat, kamu yang terbaik Jasmine” ucap Reno sambil berlalu meninggalkan Jasmine yang masih diam di tempat duduknya”
Air mata menggenang di pelupuk mata Jasmine, ia tak kuasa menahan tangis. Ia tak sanggup menghadapi kenyataan ini. Seakan berat rasanya untuk merelakan Reno dengan orang lain. Jasmine pun semakin mantap untuk pindah sekolah. Ia memutuskan untuk ikut orang tuanya yang harus pindah tugas di luar kota. Ia berfikir mungkin dengan cara menghindar seperti itu dapat membuatnya segera melupakan Reno dan segala kenangan didalamnya.
“Kamu tega ninggalin kita semua disini?” kata Anjani dengan memeluknya
“Maafin aku ya, aku juga gak pengen kita pisah, tapi mau gimana lagi”
“Kamu kan bisa gak ikut orang tuamu dan tetap tinggal disini sama nenek kamu?”
“Aku bisa aja nglakuin itu, tapi masalahnya..kalo aku tetep disini ..aku gak tau apa aku bisa setiap hari isi ulang air mataku ini”
“Kamu ini diajak serius masih aja bercanda”
“Daripada jadi nangis, kan mending ketawa”
Mereka pun tertawa untuk sesaat, namun tetap saja tawa itu tak bisa mengurungkan niat Jasmine untuk pergi meninggalkan teman-temannya.
Tinn…. Tinn….(suara klakson mobil ayah Jasmine menjadi tanda kepergiannya)
“Yaudah ya? Aku berangkat dulu, baik-baik ya kalian disini !!
“Iya ,,kamu hati-hati”
Dengan berat teman-temannya pun membiarkan Jasmine pergi. Semua bersedih karena harus kehilangan teman tersayang. Maklum,, hari takkan ceria tanpa canda dari mulut mungil Jasmine. Karena bisa di bilang yang paling cerewet diantara teman satu kelas ya memang dia. Di tempat yang berbeda, Reno hanya diam membisu tanpa ingin bergabung di kerumunan anak yang sedang mengantar Jasmine sampai parkiran. Ia justru bermesraan dengan Alina yang memang sudah jelas menduakannya. Adit yang masih perduli dengannya berusaha memberi tahu, tapi tak sedikit pun ada kalimat adit yang di dengar. Reno sudah terlanjur cinta pada Alina dan berkata sudah siap menerima apapun resikonya nanti. Tak ada yang bisa mengubah pendiriannya karena egonya yang tinggi.
***
Suatu hari, perusahaan milik orang tua Reno bangkrut. Penyebabnya karena semakin banyak perusahaan baru bermunculan dan berkurangnya para investor yang menanam modal di perusahaan orang tua Reno. Ia dan keluarganya pun jatuh miskin, semua hartanya disita bank untuk melunasi hutang-hutangnya. Mendengar berita ini, Alina langsung mengambil tindakan, karena benar adanya jika ia cewek matre, tentu ia tak lagi membutuhkan Reno yang sekarang kere.
Saat bel istirahat berbunyi…
“Reno, bisa ngobrol sebentar !” ajak Alina pada Reno
“Ada apa sayang?” jawabnya
“Gak usah panggil sayang lagi deh” bentaknya
“Memangnya kenapa? Biasanya kamu gak pernah protes?”
“Iya biasanya, tapi itu kan dulu waktu kita pacaran”
“Bukannya sekarang juga masih pacaran?”
“Apa?? Masih pacaran?? Jangan mimpi deh!! Mulai sekarang kita putus !!”
“Kok putus?? Aku punya salah apa??”
“Salah apa?? Masih sempet kamu nanya salah apa?? Sadar diri dong kamu tu sekarang siapa !!”
“Owh, pasti kamu mutusin aku karena sekarang aku udah miskin? Iya??”
“Nah itu ngerti”
“Ternyata bener ya, kamu itu cuma manfaatin hartaku, aku nyesel udah mempertahankan wanita yang salah, gak punya perasaan kamu”
“What ever deh kamu mau ngatain apa !!”
“Ok lah kita putus, itu juga yang terbaik buat kita”
“YA” (tanpa rasa bersalah Alina pun pergi begitu saja)
                                                    
                                                         ***
Dua tahun berlalu, Reno masih tetap dengan rasa bersalah dan penyesalan yang tak berujung. Memang kita akan sadar betapa penting arti kehadiran seseorang setelah orang itu telah pergi dari hidup kita. Adit sahabatnya dan temannya yang lain berusaha menyemangati agar tak terus larut dalam kesedihan.
"UN udah tinggal sebentar lagi, kamu mau gak lulus cuma gara-gara galauin Jasmine? Kamu mau stuck aja di putih abu-abu? Gak pengen gitu ngrasain bangku kuliah? Salah kamu juga sih di kasih tau sana-sini gak nurut, malah nyia-nyiain Jasmine, udah kayak gini lempeng aja kan hidup loe gak ada semangat?" ceramah Adit panjang lebar. Reno tak menggubrisnya.
Lose Contact …… itu juga problem yang membuatnya semakin merasa bersalah. Kini tak ada yang tahu bagaimana kabar Jasmine. Namun, tuhan punya cerita lain dibalik segala yang tak mungkin telah kembali menjadi mungkin lagi. Saat semua sedang istirahat, tiba-tiba saja ponsel Anjani berdering. Nomor asing yang tak ada di phonebook-nya menelepon, diangkatnya dengan segera.
“Hallo..” sapa orang dalam telepon itu dengan lembut
“Iya hallo, ini siapa?” balas Anjani
“Ini bener Anjani kan?”
“Iya benar ini dengan Anjani, siapa? Ada perlu apa?”
“Ini aku Jasmine,”
“Jasmine??? Ya ampun,, apa kabar kamu??”
Semua temannya pun kaget sekaligus senang ada kabar dari Jasmine lagi. Mereka berdua pun berbincang lama hanya untuk sekedar melepas rindu. Dibalik telepon Reno berbisik “Gantian dong, aku juga mau ngomong”
“Ehh, ini Reno mau ngobrol sama kamu” ucap Anjani sembari memberikan ponselnya pada Reno
“Hallo Jasmine”
“Iya hallo,, Reno ya? Apa kabar?”
“Baik kok,, aku seneng lho kamu masi inget aku ternyata”
“Ya masih lah, aku tetep inget kalian semua”
“Syukur deh,, lama yaa kita gak ketemu,, aku kangen kamu lo”
“Aku juga kangen sama kamu, sama anak-anak yang lain juga, btw gimana kamu sama Alina?”
“Udah putus”
“Loo???? Serius???? Kenapa???”
“Ya gitu lah”
“Aku ikut prihatin ya, nanti pasti ada gantinya”
“Kenapa harus tunggu nanti??
“Ehmm, berarti sudah ada gantinya ya??”
“Masa’ gak ngrasa?? Penggantinya kan lagi ngobrol sama aku sekarang??”
“Nah loo?? Akuu????”
“Iya lah, siapa lagi, itu juga kalo kamu mau, aku sayang sama kamu Jasmine, aku nyesel waktu itu ngecewain kamu, aku salah lebih milih Alina, dia bukan yang terbaik untukku, dia gak mengerti aku. Orang yang tepat untuk menemaniku ya kamu, satu-satunya yang paham akan aku, menerima aku apa adanya tanpa menuntut apapun. Maaf aku harus ngomong ini langsung di telepon tanpa basa-basi, karena aku udah gak sanggup nutupi lagi”
“Sorry, I can’t say anything about this”
“Iya tak apa, aku bisa maklumin,, oh ya, kamu kapan balik ke malang, katanya kangen kita, ato tetep stay di jogja terus nih??”
“Enggak kok, udah selesai urusannya disini, jadi aku ya balik ke Negara asalku lah”
“Serius?? Kapan??”
“Setelah lulusan, aku ngrencanain untuk nglanjutin kuliah disana aja”
“Wah, abis itu bisa ketemu dong? Aku jadi gak sabar pengen cepet liet kamu,, kangen banget aku”
“Seriusan pengen ketemu? Masih beberapa bulan lagi lho, ntar ngomong doang, giliran aku udah di Malang kamu udah gandeng cewek lain lagi”
“Gak bakal, aku pasti nungguin kamu”
“Yaudah, kita liat aja nanti"

Jasmine pun mematikan teleponnya, walau begitu Reno sangat senang dapat mendengar suara Jasmine bahkan mendapat kesempatan untuk bisa bertemu lagi. Ia berharap bisa segera mempercepat waktu agar pertemuannya dengan Jasmine bisa segera terwujud.
***
Kukuruyuukk……….
Suara sang ayam jantan sebagai isyarat bahwa hari telah berganti pagi pun terdengar telinga. Senyum lesung sang mentari dan kicau burung di angkasa kian menambah pagi itu menjadi pagi yang paling indah. Denting jam yang terus berputar perlahan mengalun merdu. Hari ini Anjani dan siswa yang lain akan melaksanakan wisuda. Semua bersyukur karena bisa lulus dengan nilai yang memuaskan. Begitu pun Reno, ia menjadi peraih nilai tertinggi kedua. Dorongan semangat dari Jasmine telah membuatnya berubah menjadi siswa yang rajin. Hal ini tentu sedikit membuat beberapa guru keheranan namun bangga.
Selain wisuda ini, ada hal lain yang membuat Reno tampak lebih ceria. Ia akan segera bertemu dengan Jasmine setelah sekian lama. Gadis yang sangat ia rindukan senyumnya telah sampai di Malang tadi malam. Ia tak sabar menunggu rangkaian acara ini selesai dan segera pergi ke taman tempat mereka janjian.
                                                
                                                             ***
Sesampainya di taman, masih lengkap dengan semua atribut wisudanya, Reno tampak kebingungan mencari gadis itu. Dalam hatinya "Apa mungkin Jasmine lupa dengan janji temu disini?" Taman ini sangat sepi, hanya beberapa bangku kosong dan bunga yang tampak selalu rapi seperti biasanya. Ia terus berjalan, sampai hanya ada satu wanita yang di temuinya. Benarkah itu Jasmine? Rambutnya dulu tak sepanjang ini? Bahkan dia lebih cantik. Merasa ada yang tengah memperhatikan geriknya, Jasmine pun menoleh ke arah Reno.
"Reno?" Jasmine pun berdiri dan secara spontan berjalan kearah Reno dan memeluknya. Hanya beberapa detik hingga Jasmine tersadar dan melepasnya.
“Ehmm, maaf” ucap Jasmine lirih
“Iya gak apa-apa, aku anggap wajar aja karena kita udah lama banget gak ketemu. Jadi ini bener Jasmine?”
"Iyalah, emang ada Jasmine yang lain?"
"Aku ragu tadi kalau ini tadi bener kamu, kamu berubah, jadi tambah cantik banget"
"Bisa aja kamu"
Keduanya pun kembali duduk dan mulai bertukar cerita, semuanya, tentang apa saja yang sudah mereka lalui. Sesekali di selingi dengan tawa. Mereka sangat merindukan kebersamaan ini.

“Jasmine??”
“Iyaa,??
“Apa kamu masih ingat sama obrolan kita di telepon dulu, waktu kamu sebenernya telpon Anjani?”
“Ingat,, kenapa??”
“Lalu??”
“Apanya yang lalu??”
“Gimana menurut kamu kalau,,, kalau kita kembali seperti dulu lagi,, aku janji kok, aku janji gak bakal ngecewain kamu”
“Wah,, gimana ya?? Jujur ya, perasaanku masih tetap sama sih, aku masih sayang juga sama kamu, tapi aku gak yakin”
“Apa yang bikin kamu gak yakin?? Apa?? Aku harus nglakuin apa deh supaya kamu yakin dan percaya lagi sama aku??”
“Gak aneh-aneh sih, cuma buktiin aja kalo kamu beneran bisa berubah, gak bersikap dingin kayak dulu, gak cuek!”
“Iyaa aku akan berubah demi kamu, kali ini gak cuma janji tapi bener-bener aku lakuin, aku akan buktiin kalo aku serius sayang sama kamu, taman ini jadi saksinya Jasmine!”
“Promise??”
“I do, kita mulai semua dari awal lagi”
Waktu dan jarak bukan jadi penghalang untuk sebuah rasa sayang. Sebesar apapun luka yang telah tercipta belum cukup kuat untuk membuat rapuh kepercayaan itu. Dan kekayaan, tak selalu jadi alasan untuk sebuah kebahagiaan. Cinta yang tulus adalah cinta yang bisa menerima pasangan apa adanya, bukan ada apanya, bukan karena hartanya.

THE END
loading...

Share this

Related Posts

Previous
Next Post »