(Bukan) Kisah Yang Salah

January 19, 2016

pertengkaran orang tua



“Mama, aku laper. Makan apa sekarang?”
“Iya nak sebentar mama masih ada kerjaan sayang”
“Tapi udah laper, Ma”
“Mama bilang sebentar! Ayah tolong urus Echa dong, aku masih ada data yang belum aku rekap ini!”
“Kok bisa aku? Disini kan kamu istrinya, ya kamu dong! Makanya gak usah kerja, biar kamu bisa fokus di rumah ngurus anak, masakin buat aku sama Echa!”
“Kenapa jadi nyalahin aku sekarang?  Emang penghasilan kamu cukup kalau aku gak kerja?”

Pertengkaran itu semakin menjadi-jadi. Suasana semakin panas. Dan menyedihkannya itu terjadi di depan Echa. Ada tumpukan kertas berantakan di lantai. Ponsel yang terbanting hancur di meja. Tumpahan kopi dari gelas yang pecah di dekat meja.

-0-
Stop !!!!

Wila terbangun dari tidurnya dengan sangat gelisah. Keringat dingin terjun mulus dari dahinya. Nafasnya terengah-engah seakan baru saja mengikuti lomba marathon. Ia duduk meringkuk memegangi lututnya. Menatap jam, yang masih pukul 1 pagi. Seperti tak percaya dengan apa yang baru di lihatnya.

“Alhamdulilah, ternyata cuma mimpi” batinnya seraya kembali merebahkan tubuhnya ke kasur.

Wila berusaha keras untuk kembali terlelap. Namun bayangan mimpi tadi masih tergambar nyata di pikirannya. Bagaimana dia bisa memimpikan hal tersebut, seakan itu adalah ramalan untuk masa depannya.

“Apa mungkin itu nanti akan benar terjadi ya? Ahh gak mungkin, nikah aja belum”

Berulang kali Wila mencoba menenangkan dirinya sendiri walau pada akhirnya gagal. Ia terus merubah posisi tidurnya tapi tetap saja ia tak kunjung tertidur.

Alarmnya pun berbunyi. Dia meraih jam weker dan mematikannya. Matanya merah karena tidurnya yang terganggu. Namun, ia harus segera bersiap untuk berangkat kerja hari ini jika tidak ingin terlambat.
-0-

Sesampainya di kantor, fokusnya pun buyar ketika menatap laki-laki yang tidak asing lagi. Wajahnya memaksa Wila untuk kembali mengingat mimpinya semalam.

“Pagi sayangku” dia mendekat dan berusaha untuk mencium kening Wila seperti biasanya. Kali ini Wila menolak, dia mundur satu langkah menjauh darinya.
“Kenapa sayang? Udah gak mau morning kiss?”
“Harusnya emang dari dulu kita gak pernah ada kebiasaan morning kiss” ketus Wila
“Kamu kenapa sih?”
“Gak ada apa-apa, kamu balik aja ke mejamu. Aku banyak kerjaan hari ini”
“Kamu baru dateng sayang, santai aja lah dulu. Lagian kerjaan apa? Berkas untuk meeting nanti? Kan masih nanti jam 11 sayang. Sini sama aku aja dulu, emang kamu gak kangen?”
“Aku bilang aku banyak kerjaan ya banyak kerjaan!” beberapa karyawan lain mulai menoleh kearah mereka berdua karena teriakan Wila itu.

Laki-laki ini pun berlalu pergi meninggalkan Wila di mejanya. Tidak ada semangat lagi dalam diri Wila hari itu. Moodnya hilang hanya karena mimpi buruknya semalam. Ia semakin resah ketika angannya membayangkan mimpi itu benar menjadi kenyataan. Wila hanya gadis berusia 19 tahun. Tahu apa dia tentang pernikahan atau bahkan mengurus anak? Yang ada dalam benaknya sekarang hanyalah bagaimana caranya dia bisa mendapatkan banyak uang untuk meringankan beban ekonomi keluarganya, membantu membiayai sekolah adiknya.

Apa kaitannya mimpi Wila dengan sifat ketusnya pada laki-laki tadi? Karena laki-laki itu lah yang muncul dalam mimpi Wila, laki-laki yang tidak lain adalah pacarnya. Tunggu sebentar, bukan dia! Iya bukan, laki-laki itu hanya teman atau mungkin kakak. Entahlah, Wila pun tak pernah mengerti apa status hubungan mereka. Disebut sebagai pacar, tak pernah ada kata “kita jadian ya” tapi jika hanya sekedar teman kerja, kedekatan mereka seperti dua insan yang sedang memadu kasih. Lalu apa yang salah dari hubungan seperti itu jika keduanya saling menyayangi? Pentingkah sebuah status?

Satu-satunya masalah yang muncul adalah karena laki-laki itu sudah berumah tangga. Dia laki-laki berusia 30 tahun yang telah menikah dan mempunyai satu anak perempuan, anak yang juga muncul dalam mimpinya itu. Apa yang di pikirkan Wila sampai dia harus masuk dalam zona sedekat itu dengan laki-laki tersebut? Semua kembali pada mas Gibran sendiri, begitulah seluruh karyawan memanggilnya. Seorang tamu tak akan pernah bisa masuk rumah jika bukan sang tuan rumah yang membukakan pintunya bukan? Begitulah perumpamaan yang pas untuk Wila dan Gibran. Usia mereka yang terpaut jauh sudah menjadi pertimbangan bagi Wila untuk tidak menjalin kedekatan dengan mas Gibran. Wila pun pernah sangat benci sekali pada mas Gibran karena sikapnya yang terus menggoda Wila. Wila risih.
-0-

Pada saat itu, Wila masih mempunyai pacar bernama Rendy. Dia sangat menyayanginya. Namun, karena semua peraturan dari orang tua Wila yang tidak pernah memberikannya kebebasan inilah yang membuat Rendy berpaling. Rendy memilih untuk mengakhiri hubungannya dengan Wila karena alasan takut kesibukannya menjadi mahasiswa akan membuatnya tak memperhatikan Wila.

“Aku mau konsen kuliah dulu, aku gak bisa bagi waktunya. Belum buat tugas, belum buat orang rumah, apalagi kamu. Kamu juga ngambek kan kalo aku gak kabarin kamu? Kita udahan aja ya daripada aku gak bisa perhatian lagi sama kamu?” jelas Rendy melalui inbox di Facebook.

Betapa hancurnya perasaan Wila pada saat itu, tidak adakah cara lain untuk masalah ini? Haruskah perpisahan yang menjadi jalan tengahnya. Wila tidak pernah terima dengan keputusan Rendy yang di buat secara sepihak ini. Dia terus stalking semua akun milik Rendy. Sampai akhirnya dia memilih mundur karena tahu alasan sebenarnya Rendy memutuskannya adalah karena kehadiran wanita lain. Wanita yang lebih bisa dia ajak keluyuran malam-malam, bukan seperti dia dulu. Wanita yang lebih asyik dan yang lebih menjadikan Rendy merasakan kehadiran pacar sesungguhnya. Wila menyerah kalah, dia mencoba merelakan Rendy.

Di tengah kerapuhannya ini, Gibran sangat berhasil memanfaatkan kesempatan ini. Dia masuk dalam hati Wila dan menyembuhkan luka yang pernah di buat oleh Rendy. Semua kebencian, kerisihan, kegalakan, dan sifat judesnya dulu seketika hilang ketika Gibran mampu mengambil simpatinya. Wila sadar akan kondisi Gibran, namun entah apa yang merasuki pikirannya, dia tak lagi perduli dengan status Gibran sebagai suami orang.

Sudah banyak yang mencoba menyadarkan Wila namun tak satupun yang mampu merubah pendiriannya. Nisa misalnya.

“Dia janji kok sama aku kalau dia bakal cerai sama istrinya itu?” ucapnya membela Gibran di depan Nisa.
“Terus kamu udah mikir kedepannya gimana? Dia udah ada anak juga lo La?”
“Ya anaknya ikut kita, kata mas Gibran gitu tiap kali aku coba bahas ini”
“Yakin? Kamu umur berapa sekarang udah mau ngurusin anak umur 4 tahun di tambah lagi itu bukan anak kamu?”
“Haduh, kejauhan kamu tuh mikirnya. Pokoknya ya, aku sayang sama mas Gibran dan dia sayang sama aku. Dia bakal cerai dari istrinya terus milih aku, dan aku hidup bahagia bertiga sama dia sama anaknya”
“Kamu kira segampang itu kehidupan rumah tangga? Enggak Wila. Pikir lagi deh. Mending kamu cari cowok lain yang single. Toh kamu juga cantik, pinter”
“Stop it! Whatever you say, I’m still love mas Gibran”

Semua nasehat seakan percuma di layangkan pada Wila. Dia telah buta akan semua janji dari laki-laki bermulut manis bajingan ini. Tak perduli sudah berapa bulan dia menunggu dan jawaban dari Gibran tentang perceraiannya dengan istrinya hanyalah khayalan Wila, dia tetap tak perduli. Wila tetap percaya bahwa cinta adalah kesabaran menjadi orang ketiga.

-0-

Tapi itu tidak lagi. Setelah mimpinya semalam, dia seakan tersadarkan. Dia harusnya tidak pernah memulai kisah ini. Kebenciannya yang dulu pernah ada kembali muncul hari ini ketika melihatnya. Dia merasa sudah cukup waktunya selalu menjadi prioritas kedua,  dia sudah terlalu lelah menjadi seseorang yang selalu di sembunyikan dan berpura-pura seakan semua tidak ada apa-apa di depan banyak orang.

“Aku harus selesaikan ini semua sekarang. Sebelum semua semakin terlanjur dan tidak bisa di rubah” ucap Wila pada dirinya sendiri sambil merapikan semua barang bawaanya. Dia meraih ponsel dari dalam tasnya. Dia mencari nama Gibran.

“Bisa ketemu sebentar? Aku tunggu di parkiran!” tulisnya. Tanpa menunggu balasan Wila langsung saja berjalan keluar menuju parkiran.

Ia menunggu dengan duduk diatas motornya. Mungkin sekitar enam menit baru Gibran muncul dengan gaya jalannya yang masih sok cool itu.

“Ada apa sayang? Kamu mau minta maaf soal tadi pagi? Tanpa kamu minta udah aku maafin kok tenang aja”
“PeDe banget sih mas. Aku ngajak ketemu mas untuk bahas hubungan kita ini. Mau sampai kapan lagi mas aku nunggu? Sebenernya mas niat gak sih cerai dari istri mas? Aku capek mas harus nutupi ini semua. Terus-terusan acting kalau semua baik-baik aja”

Gibran tampak bingung, dia mulai menggaruk-nggaruk kepalanya dan seperti mencari kalimat apa yang pas untuk menjawab pertanyaan Wila.

“Ehmm, gini deh sayang. Kalau emang Wila capek nungguin mas, kamu bisa cari cowok lain buat hiburan kamu, biar kamu gak iri sama temen yang lain dan bisa ngrasain gimana pacaran lagi yang gak di sembunyiin, nanti kalau mas udah cerai baru kamu balik sama mas lagi”
“Basi mas!” Wila mulai berdiri dan suaranya pun kembali meninggi.
“Jangan keras-keras!” larang Gibran yang celingukan melihat sekitar takut ada yang mendengar.
“Kenapa? Takut makin banyak orang yang tahu? Mau di rahasiakan seperti apapun semua karyawan kantor ini tuh udah pada ngira kalau kita pacaran, sementara status kita sendiri gak jelas. Solusi mas juga melulu itu tiap kali kita bahas ini, tapi apa? Aku baru mau deket satu cowok aja mas udah cemburu, mas udah kekang aku lagi.”
“Terus kamu mintanya gimana?”
“Aku mau omongan mas tadi beneran di lakuin? Biarin aku cari cowok lain. Jangan pernah kekang aku. Tapi ..”
“Tapi apa?”
“Dengan catatan aku cari cowok lain bukan buat hiburan aku yang masih nunggu mas. Aku udah gak perduli mau mas jadi cerai atau enggak. Aku udah capek. Biarin aku bebas. Sampai kapanpun juga gak akan ada yang setuju sama hubungan ini. Terlebih lagi, aku gak mau jadi bahan omongan tetangga kalau Wila suaminya duda anak satu. Aku gak mau dapet predikat perebut suami orang atau lebih parahnya penghancur rumah tangga orang”
“Kamu maunya apa sih? Semua yang kamu minta selama ini udah aku turuti. Tinggal sabar sedikit aja apa susahnya? Hhah? Aku juga udah belain sampai kabur dari rumah biar orang rumah ngerti kemauanku itu nikah sama kamu tapi sekarang kamu malah kayak gini. Kamu mau ninggalin aku dan cari cowok lain untuk gantikan aku beneran gitu? Ok, aku bebasin kamu”

Gibran berjalan kearah motornya dan kemudian mengendarainya sangat kencang meninggalkan parkiran. Wila hanya terdiam. Dia memikirkan tentang apa yang baru saja ia katakan. Sudah benarkah sikap yang dia ambil ini? Mengapa ada sedikit rasa bersalah? Sudahlah, setidaknya Wila sudah mulai lega sekarang karena mimpinya semalam tak akan pernah menjadi kenyataan. Tak ada kerepotan mengurus duda dengan satu anak.
-0-

Hari-hari berikutnya terlewati tanpa adanya kemunculan Gibran di meja Wila. Haruskah ini di sebut rindu? Atau justru kemerdekaan yang seharusnya di rayakan? Pikiran Wila kembali tertuju pada Gibran. Dia teringat akan kenangan-kenangan yang telah tercipta. Satu tahun bukan waktu yang singkat. Sudah banyak momen yang mereka lalui berdua.

“Kenapa aku jadi mikirin dia lagi?” Wila mencoba menyibukkan dirinya dengan laporan akhir bulan yang diminta pimpinannya.

Namun sekeras apapun Wila mencoba, semua tentang Gibran tak kunjung lenyap dari otaknya. Seakan ada magis yang memaksa Wila untuk terus mengingatnya.

“Wil, kalau aku boleh saran, mending kamu sekarang lebih rajin lagi deh ibadahnya, Cuma itu caranya biar kamu tenang” ucap Nisa tanpa basa-basi. Dia sudah memperhatikan gerak-gerik Wila dari tadi ternyata.
“Maksud kamu apa?”
“Aku bakal cerita tapi kamu jangan tersinggung ya?”
“Ehmm, ok crita aja” Wila yang penasaran membenarkan posisi duduknya dan memberikan perhatian penuh menghadap meja Nisa.
“Jadi sebenernya Gibran itu gak normal Wil. Ya ini sih terserah kamu ya mau percaya atau enggak. Aku sebagai sahabat kamu cuma kasihan lihat kamu di gituin”
Nisa terdiam dan nampak menata nafasnya sebelum kembali melanjutkan ceritanya.
“Di gituin gimana? Yang jelas dong Nis! Gak normal maksudnya gimana? Dia gila?”
“Bukan gak normal gila. Tapi dia itu main ilmu hitam. Dia gunain itu buat ngluluhin hati kamu. Masih inget gimana dulu kamu benci banget. Apa kamu gak ngrasa ada yang aneh ketika tiba-tiba aja kamu jadi seneng banget sama dia? Aku tau sendiri Wil, di dompet dia berupa kertas, entah tulisannya apa dia sering baca itu kalau dia lagi sendirian atau pas sepi gitu”
“Astaghfirullah. Kayak gitu itu beneran ada ya?” tanya Wila tidak percaya.
“Ya gimana ya Wil, mau gak percaya itu nyatanya ada kan. Aku udah tau dari awal, tapi di saat aku berusaha untuk ngasih tau kamu, kamu gak pernah mau denger. Kamu udah terlalu di butakan sama perasaan yang kamu anggep cinta padahal itu palsu. Sekarang aku berani bilang karena aku liat kamu udah jauh dari dia”
“Iya, aku udah mutusin untuk gak kontak lagi. Tapi kenapa rasanya gelisah gini ya. Aku kayak ngrasa bersalah gitu”
“Sholat Wila! Cuma itu perlindungan buat kamu. Semuanya balik ke kamunya sendiri”

-0-

Saat jam makan siang Wila tak sengaja bertemu Gibran di kantin. Wila mencoba acuh, namun Gibran langsung menarik tangan Wila.

“Bisa ya secepat itu nglupain mas?”
“Gak ada manusia yang bisa nglupain apa yang udah pernah terjadi, mereka hanya gak mau mengingatnya. Tolong lah mas! Bebasin aku! Apa lagi yang mau di ungkit dari kita berdua. Semua udah selesai bahkan memang seharusnya gak pernah di mulai. Mas balik aja ke keluarga mas! Ke anak istri mas yang udah lama mas tinggalin. Itu pun kalau emang mas beneran kabur dari rumah”

Wila melepas genggaman Gibran dan berjalan menuju buffet prasmanan. Tujuan dia kesini untuk makan siang bukan untuk bertemu Gibran. Di salah satu meja makan sudah ada Nisa yang tiba terlebih dulu. Dia melambaikan tangan kearah Wila, memberi isyarat padanya agar duduk bersamanya.

“Di ajak ngapain lagi sama Gibran?” tanya Nisa ingin tahu
“Masih gak trima dia”
“Cari gebetan deh Wil! Kalau dia tahu kamu udah punya pacar, dia pasti gak ngejar kamu lagi”
“Siapa?”
“Ya siapa kek gitu terserah kamu, yang jelas dia cowok, hidup dan pastinya masih single”
“Kampret kamu Nis”

Tawa itu pun menghiasi jam istirahat mereka.

-0-

Sepulang dari kantor, ponsel Wila berbunyi tanda BBM masuk. Sebuah broadcast pin lagi. Tak bosan-bosannya semua teman Wila selalu mengirim pesan yang tidak penting. Tapi tunggu, nampaknya Wila kali ini tertarik dengan nama yang ada dalam pesan tersebut.

“Ini Ario temen Smp kita dulu Vik” balas Wila
“Iya”

Tanpa pikir panjang Wila pun langsung meng-invite pin tersebut. Mungkin ini sudah jalannya, sebuah pertemuan baru untuk menggantikan apa yang telah terlepas. Sore harinya, Ario mengirim chat pada Wila. Wila tak menyangka bisa menemukan kembali temannya yang sudah lama tidak pernah ada kabarnya. Mereka saling bercanda dan obrolan itu berlanjut hingga hari-hari berikutnya. Senyum Wila kembali mengembang dengan kehadiran Ario. Meski sebenarnya Ario sendiri tak pernah tahu kisah masa silamnya, Ario seperti di tuntun untuk membantu Wila menghapus kenangan buruknya itu.

“Alhamdulilah ya La, aku ikut seneng dengernya karena kamu udah bisa lepas dari mas Gibran. Moga cowok yang kamu ceritain ini lebih baik” tanggap Nisa setelah Wila menceritakan tentang seseorang yang kembali menghiasi harinya.
“Cepet jadian ya, ntar jangan lupa traktirannya” imbuhnya dengan nada pelan sekali seperti orang sedang berbisik atau mungkin memang sedang berbisik.

Haruskah Wila bahagia menanggapi pernyataan Nisa? Entahlah. Wila tidak tahu harus melanjutkan kisahnya seperti apa. Ia hanya tahu Ario berbeda. Dia mulai nyaman dengan kedekatannya bersama Ario dan menikmati proses itu. Karena Wila juga bukan tipe wanita yang gampang jatuh cinta, ia membiarkan ini menjadi misteri baginya. Apapun kenyataan yang akan terjadi nanti itu pasti yang terbaik untuk dirinya. Dan jika memang dia benar menjalin hubungan dengan Ario, dia hanya berharap itu bukan kisah yang salah (lagi).

Share this

Related Posts

Previous
Next Post »