Sesalku

January 07, 2016
penyesalan

Masih dengan asap rokok yang memenuhi ruang kost ku ini, aku kembali menerawang ke luar jendela. Berharap ada keteduhan di langit yang begitu teriknya. Berusaha mencari secercah harapan yang sekiranya masih bisa aku raih.
Setelah apa yang terjadi beberapa bulan lalu, aku masih belum sepenuhnya menyadari akan hidupku yang telah hampa. Aku kehilangan banyak hal yang berharga. Separuh jiwaku. Seseorang yang begitu berarti dalam hidup ini.
Seharusnya ini bukan menjadi sesuatu yang harus aku sesalkan. Aku mendapatkan apa yang pernah aku tanam sendiri. Untuk sesaat, aku biarkan anganku kembali ke masa lalu. Masa dimana aku harusnya menghabiskan waktu berdua denganmu. Iya, harusnya. Tapi kini aku tlah kehilangan kesempatan itu. Untuk alasan yang sama; karna salahku.
Dimana letak logikaku pada waktu itu? Dimana akal sehatku pada masa itu? Tanpa berfikir akan akibat dari perbuatanku, dengan mudahnya aku khianati cinta wanita yang begitu tulus menyayangiku. Wanita pertama yang aku sunting. Wanita yang aku harapkan akan menjadi pendampingku selamanya. Dan aku lebih memilih dia yang lain.
Betapa bodohnya diri ini hingga aku dapat berbuat hal sepicik itu tanpa memikirkan bagaimana perasaan istriku. Entah setan apa yang mampu menghasutku. Aku tidur dengan wanita lain. Wanita yang juga memikat hatiku. Tak pernah ada kesalahan yang istriku lakukan, lantas untuk alasan apa aku berpaling?. Aku tak tahu. Aku hilang arah. Sedihnya, aku harus memilih satu diantara dua wanita yang kini sama-sama mengisi hatiku. Karena kebodohanku sendiri, aku harus melepas seseorang yang berarti. Sosok perempuan yang takkan ku lupa. 
"Engkau aku talak tiga, Ma"
Aku masih ingat betul bagaimana kalimat itu aku lontarkan pada istriku di ruang tamu. Kamu menangis sejadi-jadinya dan memohon untuk mempertahankan hubungan kita.
"Aku punya salah apa Pa? Kenapa kamu tega nyeraikan aku? Kamu gak ingat gimana perjuangan kita sebelum sampai disini? Apa kamu gak kasihan lihat orangtuamu?"
"Aku gak punya pilihan lagi. Maaf. Aku harus menceraikan kamu"
Demi anak yang ada dalam rahim perempuan yang baru itu, aku harus melepasmu. Walau aku tak pernah sanggup melihatmu menangis, tapi kali ini hatiku begitu keras hingga tak memperdulikanmu yang sedang bersimpuh di kakiku. Aku malah berlalu pergi.
"Besok, akan aku urus secepatnya semua proses perceraian kita"
***
 Ini seakan permainan, atau mungkin memang permainan? Dia yang baru lah yang memenangkan pemainan ini. Dia yang berhasil merebut pilihan ku agar memilihnya. Bukan karena aku yang tak lagi cinta pada istri pertamaku, hanya saja aku tak ingin mendapat predikat sebagai lelaki tak bertanggung-jawab. Dia yang baru yang kini menemani hariku.
Andai aku ingat lagi peristiwa itu, aku merasa malu akan diriku yang lama. Bagaimana bisa aku membuat cinta sebagai alat untuk kepuasan. Seperti barang yang sudah bosan ku beli dan bisa aku buang kapan saja, menggantinya dengan yang baru. Aku tak sadar akan posisiku yang sebentar lagi akan jadi ayah untuk janin yang sedang di kandung istriku sekarang. Seberapapun usahanya untuk berbakti padaku dan menjadi istri terbaik tak pernah aku gubris. Aku seperti tak perduli betapa besar rasa sayang yang ia tunjukkan padaku. Aku buta akan keindahan semu di sekitarku dan banyaknya wanita-wanita yang datang silih berganti di depan mataku.
Sampai ia lahir ke dunia ini. Sampai sang buah hatiku di ijinkan untuk bertemu dunia dan menghirup udara segarnya. Aku sadar akan tugasku, akan tanggung jawabku sebagai suami dan juga sebagai ayah. Melihat perjuangannya untuk memberikanku keturunan, ia pertaruhkan segalanya, bahkan nyawa. Aku berusaha untuk mengimbangi cintanya, mengimbangi rasa sayang yang pernah ia berikan hanya untukku dan akan tetap untukku. Aku mulai menyayanginya.
Namun, tuhan sepertinya sudah terlalu murka untuk melihat hamba-Nya merasakan bahagia setelah apa yang aku lakukan pada istriku. Ia hanya memberiku kesempatan untuk bertemu buah hatiku sesaat saja. Dokterpun sudah memvonis bahwa umurnya memang takkan lama. Untuk dia yang masih begitu kecil dengan penyakit yang begitu parahnya. Andai aku bisa menukarnya, ingin rasanya aku saja yang merasakan sakit itu jangan anakku. Dia jantungku, jika gagal jantung akan menghentikan langkahnya untuk bisa tumbuh dewasa maka aku bersedia untuk menjadi jantungnya. Tapi apa daya aku sebagai manusia. Tuhan sudah mengambilnya kembali. Aku tak sempat melihat langkah pertamanya. Aku takkan pernah mendengar suaranya memanggilku “papa”. Aku kehilangannya.
Hanya istriku kini yang berada di sampingku, berusaha menguatkanku. Dalam kebersamaan ini, aku takkan membiarkannya lepas juga. Sudah cukup aku kehilangan orang-orang yang aku sayang, jangan lagi. Aku berusaha menebus semua kesalahanku selama ini padanya. Sikap cuekku ingin aku ganti dengan perhatian tulusku. Seluruh hidupku akan aku serahkan padanya. Menyayanginya sepenuh hati tanpa ada permainan wanita lagi.
Tapi, apa yang aku dapat? Rupanya usaha yang aku lakukan belum mampu menenangkan amarah Tuhan. Mungkin ini lah karma yang harus aku terima. Aku tlah banyak mempermainkan cinta, dan kini aku yang di permainkannya. Aku yang mengkhianatinya berbalik ia yang mengkhianatiku.
Istriku pergi meninggalkanku bersama laki-laki lain. Aku baru menyadari akan pentingnya kehadiran dia saat aku akan kehilangannya. Mengapa ini harus terjadi? Mengapa dia harus meninggalkanku di saat aku telah mampu menyayanginya dengan tulus.
Aku tlah benar-benar menyayanginya, tapi itu terlambat. Bagaimanapun usahaku untuk mempertahankan hubungan rumah tangga ini tak bisa lagi mencegahnya untuk tetap pergi. Ia melayangkan surat gugatan cerainya. Aku bisa apa? Aku hampir tak pernah membahagiakannya, hanya sesaat saja. Mungkin dengan membiarkannya pergi akan jauh lebih membuatnya bahagia. Lagi pula orang tuanya juga tak mengharap kehadiranku untuk meminang anaknya. Tolol sekali aku baru tau semua ini sekarang. Baiklah aku akan merasa telah menyempurnakan kebahagiaannya itu ketika aku merelakannya, meski itu sulit. Ketika aku sudah benar-benar menyayanginya tapi aku harus melepasnya.
Dia pergi dan tak pernah kembali. Aku kehilangannya. Sama persis ketika aku harus melepas istri pertamaku, dan aku harus kehilangan anakku. Kini, aku kehilangan sosoknya yang selama ini tak pernah aku hiraukan dan mulai aku sayang ketika dia akan pergi. Laki-laki apa aku ini?
Hidupku tak tentu arah lagi. Apa yang menjadi peganganku tlah hilang, semuanya. Lalu apa yang aku pertahankan? Sebatang rokok yang masih tetap aku genggam ini? Untuk apa?, ketika habis abunya pun tak bisa mengubah kehampaan dalam hidupku. Aku tlah kalah dalam permainan yang aku buat sendiri. Dan selanjutnya aku harus membuat permainan yang baru, tetap dengan aku sebagai pemeran utamanya namun entah dengan siapa lawannya.
loading...

Share this

Related Posts

Previous
Next Post »