Tentang Satu Kisah Yang Takkan Terlupa

February 11, 2016


Adakah seseorang yang mampu melupakan masa lalunya? Aku rasa tidak. Takkan ada satupun manusia yang mampu menghapus memori atau kenangan yang telah tercipta, meski sepahit apapun sebuah cerita itu tertulis. Mereka hanya akan berusaha untuk tidak mengingatnya.

Dan aku? Aku hanyalah salah satu dari sebagian insan itu. Warna senja yang menghiasi langit hari ini mampu membawa anganku pada masa lalu. Entah kenapa aku tiba" mengingat seseorang yang sudah sangat lama tak pernah bertegur sapa denganku. Sudahkah ia melupakanku? 

Di depan teras rumahku melintas sepasang kekasih dengan baju senada. Pemandangan ini semakin kuat menarikku pada cerita empat tahun yang lalu.

***

Tiga hari berlalu tanpa kabar darimu, tidak bisakah kau mengerti betapa rindunya aku padamu. Malam ini, ketika aku sudah selesai dengan semua tugasku dan hendak ke kamar, ponselku berdering tanda panggilan masuk. Private number. Aku benci jika ada telepon masuk tanpa tertera nomor dan nama seperti ini. Tapi entah mengapa aku justru ingin mengangkatnya. Dan suara itu, ternyata bukan suara yang asing ku dengar.

“Hobi banget sih nyembuyiin nomor telponnya”
“Ngetes aja sayang, kamu peka apa gak sama suaraku” Dika tertawa dari balik telponnya.
“Masih inget pacarnya ya ternyata?”
“Loh, kamu ini. Ya inget dong sayang. Udah lah, masak masih ngambek soal hari senin kemarin. Anak-anak juga ndadak ngajak berangkatnya, tiba-tiba aja di jemput kan sayang juga tiketnya kalau harus di batalin. Toh aku juga udah minta maaf. Gini aja besok kan tanggal merah, kamu libur kan. Kita ketemu ya, aku ke rumahmu”
“Ehmm, besok?” aku kebingungan menanggapi sarannya.

Sebenarnya aku pun rindu, aku ingin secepatnya bertemu. Tapi tanggal merah bukan berarti libur bagiku. Aku sudah di tunjuk sekolah untuk mengikuti Lomba Kompetensi Siswa dan besok adalah hari pertamaku untuk mulai pelatihan.

Bulan ini, bulan yang sangat menyibukkan diriku. Banyak sekali kegiatan yang di bebankan kepadaku. Kegiatan osis, seleksi pemilihan Duta Wisata Batu, persiapan LKS ini. Aku sudah menceritakan semua pada Dika, harusnya dia sudah mengerti.

“Besok itu aku udah mulai training sayang. Aku gak tau selesainya jam berapa?”
“Loh? Terus gak bisa sayang? Aku kangen banget sama kamu Zel”
-0-
Setelah semalam berdebat, aku memutuskan untuk tetap bertemu jika pelatihanku hari ini bisa selesai sebelum jam sebelas. Dika pun setuju. Dia tetap memantauku melalui setiap smsnya “Sudah pulang?” Aku kehilangan konsentrasiku. Untung saja pembimbingnya masih muda, dia bisa memahami dan tidak memarahiku karena ponselku yang terus berbunyi.

Pelatihan hari ini selesai pukul sepuluh. Aku tak sabar segera memberitahukan hal ini pada Dika. Dika pun secepat kilat langsung membalasnya.

“Jadi ini sudah pulang? Aku jemput ya”
“Gak usah, aku bisa pulang sendiri. Aku tunggu kamu di rumah, siap-siap berangkat sekarang aja, biar barengan ntar nyampek rumahku”

Padahal belum lama aku sudah bertemu dengannya, namun entah mengapa rindu ini selalu saja hadir dan ingin rasanya untuk selalu bersama.

Sesampainya di rumah, justru sepi tidak ada orang. Sepertinya Ibuku benar ke rumah saudara untuk membantu memasak karena akan ada hajatan. Pantas saja dia memintaku membawa kunci sendiri. Tak lama kemudian motor Dika terparkir di depan rumah. Ia masuk dan menebar senyum yang selalu ku rindukan.

“Gak aku buatin minum dulu ya, anterin aku dulu ke Hotel Pondok Jatim. Barusan di sms Novi ngajak ambil bayarannya casual kemarin, siapa tau udah cair”
“Ciyee gajian”
“Gak usah ngeledek”
“Kalau tau mau kesana kenapa gak sekalian tadi mumpung masih di luar”
“Nah itu dia, dari tadi dia masih bingung kesana apa enggak. Dari pada aku berjemur lama di jalan nunggu kepastiannya dia, kan mending aku pulang. Toh kalo aku jadi nunggu disana kamu nemuin siapa disini kalau gak ada orang”
“Iya juga sih, yaudah ayo berangkat. Bilang ibu aja sekalian kalau kita gak langsung pulang, maen dulu”
“Hmm,, maen? Yakin mau ngajak aku keluar? Gak takut gak di ijinin?”

 Aku bukan seperti perempuan kebanyakan, yang bisa dengan mudah pergi kemanapun. Aku hanya gadis dalam sangkar yang selalu berada dalam kekangan orang tua. Sering terbersit rasa iri dengan mereka yang bisa bebas menentukan apa yang mereka mau dan apa yang mereka ingin lakukan.

“Di coba aja dulu”
“Yaudah ayo, kita mampir tempat Budhe dulu nitipin kunci sekalian pamit”

Dika pun menyalakan mesin motor  dan mulai mengarahkan motor ke rumah Budhe yang tak jauh jaraknya dari rumah. Kali ini dia yang berbicara sendiri pada Ibuku hendak mengantarku mengambil fee dan keluar sebentar. Anehnya, ibu mengijinkan. Mungkin ia tak sadar betul karena ia terlalu sibuk dengan pekerjaannya. Tangannya lusuh dengan adonan kue donat. Tapi yasudahlah, lebih baik aku segera berangkat sebelum ia berubah pikiran.

Aku dan Novi membuat janji untuk langsung bertemu di depan hotel. Aku merasa Dika sudah kencang memacu motornya tapi ternyata Novi masih lebih cepat lagi. Dia sudah sampai lebih dulu dan memasang tampang kecewa. Aku turun dari motor dan mendekati Novi.

“Belum cair Zel, katanya nanti di kabari lagi”
“Loh kok bisa? Ini sudah seminggu lho, harusnya udah bisa di ambil dong?”

Sekarang aku tahu mengapa wajah Novi kusut begitu. Satu minggu yang lalu aku memang di ajak untuk bekerja di Hotel ini. Sebenarnya ibu sudah pernah melarang karena selain tempatnya yang jauh dengan rumah, sistem penggajiannya pun  tak jelas seperti di Hotel tempatku bekerja sebelumnya yang langsung di bayar jika sudah selesai.

“Nihil sayang, belum cair ternyata” aku kembali ke tempat Dika memarkir motor.
“Ya di tunggu lagi aja. Pulang ini ya?”
“Iyalah, mau nunggu apalagi”

Dika kembali menarik gasnya, kali ini aku tak tahu tujuannya. Aku hanya mengikutinya dan pasrah dia hendak membawaku kemana.

Ini arah jalan pulang, jadi kemana sebenarnya dia ingin pergi. Jika memang rumahku tujuan berikutnya kenapa dia harus meminta ijin untuk pulang sore. Sampai pada belokan menuju sebuah perumahan, Dika mengarahkan motornya kesana.

“Kita mau kemana?” tanyaku mulai penasaran. Dika tak menjawab, seperti biasa dia hanya menatapku melalui spion yang dari tadi sudah di hadapkan padaku bukan jalanan dan kemudian tersenyum jail.

“Kita sampai” Dika berhenti dan memintaku turun. 

Tempat apa ini? Bukankah kita tadi masuk di perumahan, kenapa sekarang menjadi gersang tanpa ada rumput atau tanaman atau bahkan rumah.

“Aku nyebutnya sih Bukit Gersang, jangan ketawa ya”
“What? Dika please. Yang namanya bukit itu indah, hijau segar. Ini? Gersang?”
“Tuh kan, kamu mesti ngeledek. Jangan lihat gersangnya tapi coba pandang sekeliling, bagus kan viewnya?”

Aku tak begitu sependapat dengannya. Aku kembali duduk diatas motor, melipat tangan di depan dada dan memandang Dika heran. Dika juga menatap kearahku kemudian setelah selesai menikmati pemandangan yang di anggapnya indah. Dia membuka tasnya dan kemudian memberikan bungkusan kepadaku.

“Apa ini?”
“Buka aja!”

Aku pun langsung membuka bungkusan kertas warna putih ini. Tampak kaos berwarna abu-abu terlipat rapi. Aku mengangkatnya hingga jelas terbaca sebuah tulisan “Yang lain cuma numpang aja” dengan gambar perempuan diatas vespa merah. Di bawahnya masih tertulis lagi “Jogja Scooter”. Sepertinya ini oleh-oleh yang dia berikan untukku, atau mungkin permintaan maaf karena kesalahannya senin lalu yang batal menjemputku karena lebih memilih Touring ke Kota istimewa Yogyakarta ini.

“Kamu seneng? Semoga ukurannya pas, karena kalau kebesaran aku gak mau balik ke Jogja cuma buat nukerin baju. Itu udah ukuran paling kecil, kamu sih jangan kurus-kurus dong biar gak susah nyari ukuran bajumu”

Aku hanya bisa tersenyum menanggapi pernyataannya. Aku masih terkejut dengan pemberiannya hingga tak sadar jika Dika sudah membuka jaketnya dan dia berusaha menunjukkan itu padaku.

“Loh sayang?” aku makin terkejut. Kaos dengan warna yang sama, hanya saja laki-laki yang berada diatas vespa merah itu, bertuliskan “Dunia serasa milik berdua”. Aku kembali memandangi kaos yang ada di tanganku. Aku ulang berkali-kali tulisan pada kaos Dika dan yang ada padaku. Aku tersadar jika kaos ini berpasangan.

“Masih inget kan, smsku dulu tentang rencana mau bikin kaos couple?”

Astaga, ternyata Dika masih ingat, aku kira dia hanya akan sekedar berbicara saja.

Iya inget lah sayang. Ya ampun sosweet banget. Makasih ya”

Aku memeluknya, tanpa perduli akan ada yang lewat atau tidak, aku bahagia sekali. Kita berdua pun bercanda sampai lupa jika waktu sudah sore. Aku pun meminta pada Dika untuk segera pulang saja sebelum ibuku ceramah panjang lebar.
“Ke rumah Budhe yang tadi ya, ambil kunci dulu”
Dika pun mengangguk.
-0-
Sesampainya disana, ternyata Ibu belum juga selesai, ia memintaku untuk pulang lebih dulu dan ikut membonceng adikku. Aku tak tahu apa yang Dika pikirkan tapi sepanjang perjalanan menuju rumah dia tertawa kecil seakan ada hal lucu yang tidak aku ketahui.
Aku membuka pagar dan Dika memasukkan motornya, dia masih tetap tersenyum.
“Kamu kenapa sih?”
“Enggak kok, udah coba ganti bajunya pas apa enggak?”
Aku mengernyitkan alisku. Aku benar-benar tak paham.
“Pas kok sayang” aku keluar dari kamar dan mulai berpose di depan Dika menunjukkan bajunya.
“Ciyee baju baru” adikku dari depan Tv ikut menimpali pembicaraanku.
Kita berdua pun berfoto-foto, sayangnya tak pernah ada angle yang pas. Entah yang mukaku kelihatan separuh atau mungkin Dika yang tak terlihat sama sekali. Maklum, kita berdua masih belum mengikuti perkembangan jaman yang sudah mulai menggunakan kamera depan. Aku meminta adikku untuk memfotokan kami berdua, namun dasar anak kecil dia memberikan syarat padaku. Aku harus mau menemaninya bermain videogame. Aku membenci syarat ini, tapi aku butuh berfoto dengan Dika.
“Yaudah gakpapa sayang, ntar biar main sama aku” jawab Dika.
Tak ada satupun foto yang bagus, kali ini mungkin wajahku dan Dika terlihat, tapi entah kurang cahaya lah, entah buram. Arghh, siapa yang bisa jadi fotografer sekarang?
“Udah tak fotoin lho, hayoo janjinya tadi”
“Gak ada yang bagus gitu fotonya, batal perjanjiannya” tukasku
“Yo gak bisa” dia memasang wajah sebal sekaligus memelas agar aku kasian dan akhirnya menuruti keinginannya. Bersamaan dengan itu, Ibu pulang dan dia langsung mengadu pada Ibu.
“Apa sih ibu baru pulang sudah ribut-ribut?”
“La kakak lho?” dia malah balik menyalahkanku.
Akhirnya kita berpindah ke ruang tengah dan menemani adikku bermain videogame, lebih tepatnya Dika yang bermain. Aku hanya menunggu di belakang mereka.
“Zelda?” panggil Ibu dari dapur. Aku pun segera menemuinya. Ternyata dia memintaku mengajak Dika makan. Aku hanya membatin, bukannya dari tadi Ibu tidak memasak, ada makanan apa yang bisa ku sajikan untuk Dika?
“Malah bengong, ambil mangkuknya itu bapak e udah nungguin di depan?”
Bapak siapa? Aku masih belum paham dengan maksud ibu. Aku melihat keluar rumah ternyata dia memberhentikan tukang bakso yang biasa keliling depan rumah. Aku pun sibuk menyiapkan makan malam. Ternyata seperti ini ya repotnya menjadi Ibu, selama ini aku hanya tahu makannya saja tanpa memikirkan bagaimana repotnya sebelum makanan itu tersaji di meja.

Usai makan, Dika meminta ijin untuk menunaikan sholat magrib, tanpa pikir panjang aku pun nyeletuk “Imamin ya”. Dika tersenyum dan mengangguk. Aku merasakan kebersamaan yang belum pernah aku alami selama ini. Dia membimbingku sholat, dan setelah selesai adik masih merayu untuk mengajak bermain lagi. Namun ibu lebih dulu memarahinya dan memintanya untuk belajar saja. Aku dan Dika berpindah tempat menjadi di luar rumah. Udara terasa panas hari ini meski sudah malam. Kita berdua memandang langit yang penuh bintang malam itu, bernyanyi bersama. Tak terasa satu hari ini aku lalui bersama Dika.



Waktu sudah menunjuk pukul delapan, Dika pun bergegas pulang, ia sendiri takut jika mamanya marah.
Sesampainya di rumah, ia mengirimkanku pesan “Hari ini kita udah kayak suami istri ya sayang, punya anak, nemenin anaknya main, berduaan. Seru lah pokoknya”
“Jadi kamu dari tadi senyum-senyum gak jelas itu mikir soal ini?” balasku cepat.
“Iya sayang, makasih ya hari ini. I love you Zelda”
Aku pun lebih bahagia bisa memilikimu Randy Mahardika, orang pertama yang menunjukkan padaku arti cinta dan berbagi kasih. I love you too.
***

Tanpa sadar aku menebar senyum kecil. Jika di ingat kembali, belum ada lelaki yang mampu menciptakan kisah seperti Dika lagi. Sayangnya, semua itu harus berakhir sedih. Ada sedikit penyesalan mengapa aku tidak bisa membahagiakannya lebih lama. Ada wanita lain yang lebih mampu memikatnya. Saat ini mungkin kamu telah sangat bahagia dengan kekasih barumu itu, hingga tidak ada celah untuk mengingatku. Baiklah, aku pun akan berusaha untuk tidak mengingat lagi tentang apa yang pernah tercipta dulu. Biar saja semua abadi dalam kotak ingatanku dan tertata rapi dalam setiap tulisanku. 

Share this

Related Posts

Previous
Next Post »