Jika Aku Tidak Bisa Apa-Apa, Jauh Dari Kata Sempurna. Akankah ?

March 20, 2016


Aku hanyalah gadis biasa yang jauh dari kata sempurna. Jika kamu benar memilihku, sudah siapkah penglihatanmu untuk tidak melirik perempuan lain yang lebih cantik. Perempuan yang pandai bersolek, perempuan yang mempunyai tubuh bak peragawati, perempuan yang alisnya kekinian. Ketahuilah sayang, aku tak ingin kau terjebak pada kecantikan semu. Waktu pasti akan membawa pergi masa muda tiap-tiap wanita, dimana semua keindahan tadi akan berubah menjadi kerutan.

Jika aku tak bisa melakukan apa-apa, masihkah aku menjadi pilihanmu untuk kau jadikan pendamping hidup? Aku tahu kehidupan rumah tangga akan sangat berbeda dengan saat kita pacaran. Saat ini aku hanya tahu bagaimana bisa bersenang-senang, bercanda berdua bersamamu. Namun, ketika kau memutuskan untuk meminangku. Aku tak tahu apa aku sanggup melaluinya.


Aku hanya tahu makan, tanpa mengerti bagaimana proses sebelum makanan itu tersaji. Tak pernah terbersit keinginan dalam diri ini ketika bangun pagi dan memulai aktivitas awal dengan langsung berkutat di dapur. Jika kamu bermimpi mempunyai pasangan yang pandai memasak, seseorang yang siap menghidangkan makan pagi siang dan malam untukmu, mungkinkah aku tetap menjadi wanita dalam daftar pilihanmu?

"Sayang, kancing bajuku lepas. Benahin ya!"
Jawaban apa yang harus aku berikan jika dalam kehidupan kita kelak pertanyaan itu akan kau lontarkan? Aku tak bisa menjahit, bahkan memegang jarum dan benang saja tidak pernah.

Kamu sudah lebih berpengalaman melewati hidup ini, pahit getirnya pernah kau rasakan. Sedangkan aku, aku selalu hidup berkecukupan. Aku tak tahu apa itu berjuang demi mendapat rupiah untuk menyambung hidup. Selama ini aku cuma bermalas-malasan menunggu uang kiriman dari orang tua. Aku malu pada diriku sendiri. Aku malu terhadapmu. Mungkin kini kau bisa menyebutku sebagai gadis manja.

Baca Juga : Statusmu Penghalang Kisah Kita

Ketika sakit tanpa di undang tetap datang, ada Ibu yang selalu menjagaku. Aku tak pernah bisa merawat diriku sendiri. Bagaimana jika nanti aku tak bisa merawatmu. Bagaimana jika aku tak bisa melayanimu dengan baik. Aku sadar aku terlalu bergantung pada Ibu, bahkan amat sangat. Apa-apa Ibu, ini Ibu, itu Ibu. Aku bukan gadis mandiri. Siapkah kau dengan keadaanku ini?

Masihkah kau memilihku jika aku tak pernah mengerjakan kewajibanku? Jika membersihkan rumah, mencuci, menyetrika pakaian tak pernah aku lakukan, pasti kau akan beranggapan aku tak pantas menjadi istrimu. Tapi sayangku, jika aku boleh mengingatkan, kau sedang mencari istri bukan? Kau mencari pendamping untuk hidupmu bukan pembantu.

Sebelumnya, aku sudah terbiasa sendiri, jika dengan menjalani hidup berdua denganmu berarti aku harus siap dengan dunia barumu, aku takut. Aku takut aku tak bisa membaur dengan orang tuamu, dengan keluargamu, saudaramu. Akankah kau slalu berjalan bersamaku dan bersedia mengajariku untuk bisa menyatu dengan mereka?

Semakin lama hubungan kita terbina, kau akan semakin mengerti bagaimana diriku. Setelah kau mengetahuinya, masihkah kau tetap bersamaku? Karena waktu akan terus menunjukkan padamu kekuranganku, sementara kelebihanku tak mampu lagi menguatkan kepercayaanmu.

Aku mungkin sangat tak berguna, tak ada yang bisa diandalkan dari diriku. Aku tak bisa melakukan apapun. Dan jika rasa bosan mulai menyerangmu, apakah kau akan berpaling? Aku tak yakin apa aku bisa membuatmu bahagia nanti. Tapi, sungguh aku tak ingin kehilanganmu, rasa sayang ini amat besar dan tulus kepadamu.



Teruntuk kamu yang aku cinta, aku akan berbenah. Aku akan berusaha menjadi pribadi yang lebih baik untuk dirimu. Aku hanya ingin kau tetap sabar mendampingi. Dan dari sekian alasan yang bisa membuatmu pergi dariku, aku berharap semoga kau selalu punya satu alasan untuk tetap bertahan bersamaku.
loading...

Share this

Related Posts

Previous
Next Post »