Keberuntungan yang Tak Berpihak

March 08, 2016


“Selamat pagi, kenalkan saya Dira sebagai reception baru disini. Saya asli dari Surabaya, saya harap anda semua dapat menerima saya dan kita bisa bekerja sama dengan baik”

Sebuah kalimat perkenalan pada monthly meeting semua karyawan itu seakan mengantarku pada satu kisah indah. Kisah baru dalam hidup yang aku rasa sudah akan hampa selamanya. Wanita berhijab dengan kacamata yang melekat di wajahnya kian memancarkan kecantikannya. Sejak kapan aku bisa mengagumi kecantikan wanita? 

Sejauh ini aku terlalu payah dalam urusan wanita. Aku terlalu cuek untuk sekedar membincangkan persoalan wanita. Iya, mungkin karena sudah lama sekali aku tak pernah merasakan cinta. Bahkan aku lupa apa itu cinta, apa itu menyayangi seseorang, apa itu menjalin hubungan pacaran, aku sudah lupa semua itu.

Dengan kedatangan wanita ini,  hidupku kembali berseri, hariku seakan selalu terhiasi. Entah kenapa sepertinya berbeda, walau sebelum kehadirannya pun aku juga sudah melakukan semua pekerjaan seperti biasanya. Namun sekarang seakan ada magnet di tempat kerja yang begitu menarikku untuk segera berangkat kerja namun enggan pulang. Dia seperti semangatku, dia istimewa.

Apa lagi? Aku tak tahu harus menggambarkannya dengan ungkapan apa lagi. Aku hanya menyukainya. Ah, kalimat ini begitu hambar keluar dari mulutku yang tak pernah berbicara cinta. Lucu ya? Aku yang penakut, tiba-tiba melontarkan kalimat kagum pada seorang wanita. Bisa ku tebak juga, mungkin mbak Dira akan menolakku mentah-mentah. Bagaimana tidak? aku tak pernah tahu-menahu tentang seperti apa melakukan pendekatan, aku tak tahu bagaimana menyatakan perasaan. Terlebih lagi usiaku yang terpaut jauh dengan mbak Dira. Jangankan untuk menerima kekagumanku, untuk menolehku dan membicarakan cinta saja itu tidak mungkin. Dia pasti beranggapan “tau apa kamu anak kecil soal cinta?”

Sejauh ini, aku biarkan semua berjalan biasa saja. Aku tak pernah berusaha menunjukkan rasa sukaku pada mbak Dira, lebih baik aku pendam ini daripada aku harus malu. Aku biarkan diriku mengaguminya dari jauh. Mungkin memang seharusnya begini. Agar dia juga merasa nyaman dan tetap fokus bekerja di hotel ini tanpa terganggu olehku yang membawa urusan pribadi untuk hidupnya.

Sampai pada hari dimana ia dengan santai memanggilku, “candra, kamu ndak makan?”. Waktu memang telah menunjukkan jam istirahat. Aku pun menjawabnya dengan senyum polosku “iya mbak nanti, masih ada tamu di resto belum bisa aku tinggal, mbak aja makan dulu”

“tapi aku arep makan nggo opo iki? Tata letak e berubah ngene, bingung aku can?”
"iya mbak, kitchennya baru di bersihkan jadi ikut pindah semua peralatannya." jelasku.
"Nduk, minta tolong mbak Dira antarkan ke tempat makan karyawan yang baru di EDR ya”. Aku menyuruh salah satu trainee dapur mengantarkan mbak Dira.
“mbak ku ini, tolong di layani dengan baik ya” tambahku
“loh mas? Masak se mbak ini mbaknya mas? Mbak kandung?” tanya trainee itu tak percaya
“iyo, aku mbak e candra. Gak percoyo? Opo perlu tak gawakke KK ben jelas nek candra ki adekku” sahut mbak Dira dengan logat medoknya.

Dari kejadian itu aku semakin yakin untuk terus memendam perasaan ini. Ingin terus ku gali lubang ceritaku semakin dalam dan dengan rapat aku kunci hingga tak mungkin akan terbuka tutupnya. Karena aku sudah bisa menyimpulkan bahwa aku hanya adik baginya.
Bodoh sekali aku yang begitu berharap mendapat balasan cinta dari mbak Dira. Siapa aku? Sampai berani menyimpan rasa untuk seorang wanita sesempurna dia. Cantik, putih, tinggi, berpendidikan tinggi, dari keluarga yang terpandang, di bandingkan denganku? Ahh, bagai pungguk merindukan bulan. Aku yang hanya lulusan Smk mana bisa menyaingi S1 nya, aku yang dari keluarga sederhana, apa yang bisa ku banggakan di hadapan keluarganya.

Terlalu tinggi harapan ini sampai cinta pun tak ingin berpihak kepadaku untuk sekedar membuatku merasakan bahagia akan kasih sayang. Kisah ini juga tak berujung, bahkan aku masih belum tahu pasti kapan kisah ini di mulai. Sungguh buruk keberuntunganku. 
Secepat perkenalan itu terjadi, secepat itu pula kontrak kerja satu tahun ini telah usai. Secepat saat tangan menarikan signature di atas kertas pada awal kontrak kerja, secepat itu pula mbak Dira melayangkan surat Resign. Pertemuan kita yang hanya satu tahun ini telah menorehkan tinta baru yang sangat menawan dalam kisahku. Satu getar pengalaman cinta yang baru. Cinta terpendam yang tak pernah terungkap. 

Kini, kita pun tak pernah berkomunikasi. Sejak hari terakhirmu disini, itulah saat terakhir kita bertemu, saat dimana aku takkan melihat senyummu lagi, senyum yang sama di awal perjumpaan kita yang membawaku pada rasa suka ini. Andai di perbolehkan aku mungkin akan meminta satu hari saja untuk bertemu kembali denganmu, meluapkan rinduku dengan kembali berbincang denganmu.

Mbak Dira, terima kasih untuk satu tahun yang berharga bersamamu ini. Aku tak mungkin melupakan setiap moment kebersamaan kita dan semua tingkah lucumu. Terima kasih telah menjadi partner kerja yang begitu baik. Akan ku titipkan rindu ini bersama doaku pada Tuhan semoga selalu bahagia dan segala impian mbak Dira tercapai.


Dari aku yang hanya kau anggap adik.
loading...

Share this

Related Posts

Previous
Next Post »