Hal Yang Harus Kamu Lakukan Ketika Hati dan Pikiran Tak Sejalan

March 16, 2016

Kamu yang begitu manis dan sempurna di mataku, itulah mengapa aku mengabaikan banyak pria hanya demi memperjuangkanmu. Namun itu hanyalah perkiraan yang salah. Awalnya saja memang sempurna. Saat aku duduk melihat pasangan lain yang begitu bahagia, rasa-rasanya aku ingin bertanya padamu mengapa kita tak pernah sebahagia mereka saat ini. Ada jarak yang tercipta. Bukan jarak karena kita berbeda kota melainkan jarak lain yang justru lebih memilukan.



Aku sadar, kehadiranku dalam hidupmu bukanlah satu-satunya. Masih ada dia yang menjadi prioritas utamamu. Mengapa perasaan ini tumbuh jika cinta hanya memberi ruang untuk dua orang saja? Lalu apa arti diriku?

Rasa iri selalu menyakitiku ketika melihat pasangan di luar sana dapat bermesraan. Sedangkan aku? Aku hanya bersembunyi di balik doa untuk kisah kita. Apa yang mereka bisa lakukan tak pernah aku mampu menyamainya. Aku tak pernah sebebas muda-mudi lain yang bisa memajang foto wajah pasangannya. Aku harus membuang jauh angan-angan tentang makan malam romantis, peluk mesra atau gandengan tangan darimu. Semua itu mustahil aku dapatkan.



Bodohnya aku, sampai detik ini masih bertahan pada setiap janji yang kau ikrarkan untukku. Sampai kapan? Sampai aku menua dan tak lagi bisa melihat senyummu. Hadiah apa yang kan kau berikan untuk kesetiaanku ini?

Untuk satu alasan aku bertahan, rasa sayang ini. Namun untuk berbagai alasan aku harus melepasmu. Orang tua, kerabat, saudara, rekanku, tak ada sesiapa yang mendukungku untuk memperjuangkanmu. Satu alasan berbanding puluhan alasan. Harusnya mereka menang, harusnya puluhan alasan itu menjauhkan kita. Tapi apalah dayaku? Perasaan ini terlalu kuat untuk melepasmu begitu saja.

Aku mengerti jika hidup itu pilihan. Dan jika aku memilihmu, apakah itu di anggap sebagai satu kesalahan besar? Andai saja aku bisa menjadi penulis skenario untuk kisahku sendiri, mungkin hanya akan ada hal indah di dalamnya. Aku hanya menulis tentang kebahagiaanku dan mendapat semua yang ku mau.

Kamu yang aku cinta? Kapan memberiku cinta yang nyata? Kapankah tak lagi ku cumbui bayang-bayangmu dan ku nikmati indahnya asmaramu. Aku mulai lelah dengan pertemuan kita yang hanya melalui mimpi.



Hatiku sangat mendambakan dirimu untuk segera berada di sampingku tanpa memperdulikan wanitamu. Namun, akal sehatku menarikku agar kembali dari dunia khayalan dan mulai berpikir dengan logika. Iya, perpisahan yang kau janjikan bukanlah perpisahan yang mudah. Bagaimana bisa aku berniat menghancurkan ikatan sakral itu? Sungguh, ada perdebatan hebat antara hati dan pikiranku sekarang.

Aku harus bagaimana? Banyak yang berkata bahwa cinta sejati adalah ketika hati dan pikiranmu mengatakan hal yang sama. Apakah ini artinya aku harus siap melupakanmu? Menghapus semua perasaan yang pernah aku titip padamu, menuruti semua perkataan mereka lalu membiarkanmu tetap bahagia bersama keluarga kecilmu. Aku tak tahu lagi harus meneruskan seperti apa tulisanku ini. 



Mungkin menjauh memang pilihan yang tepat. Karena kamu bukanlah tempatku untuk pulang.

Share this

Related Posts

Previous
Next Post »