Statusmu, Penghalang Kisah Kita

March 09, 2016

Aku tak pernah menganggapmu ada dalam hidupku. Bahkan untuk melihatmu saja aku tak ingin. Kehadiranku disini hanyalah sebagian dari tugas yang harus aku kerjakan untuk menyelesaikan studyku. Namun, adakah sesuatu dalam diriku yang begitu penting bagimu? Hingga kau begitu gigih untuk mendekatiku setelah sekian kali selalu aku abaikan. 

Aku masih sangat ingat bagaimana caramu memandangku pertama kali saat pertemuan kita dulu. "Cah ayu dari mana ini?" begitu katamu dengan terus menatapku. Aku tak menggubrismu, karena aku paham dengan orang-orang dalam dunia kerjaku memang seperti itu tingkahnya, seperti itu ucapannya. Sungguh di luar dugaan jika ternyata ungkapanmu kala itu kau sampaikan dengan sangat jujur. Kamu mengungkapkan kekagumanmu terhadapku, dan kamu ingin ada sesuatu yang lebih dari perkenalan kita.

"Aku udah punya pacar mas, aku gak bisa. Aku gak mau nyakitin dia". Apa kalimat itu kurang jelas untuk membuatmu pergi. Saat jam istirahat kau menarikku jauh dari karyawan lain dan membahas tentang perasaan lagi. Segala cara yang aku lakukan kamu pun tetap tak ingin mundur. Baiklah aku menyerah, menyerah untuk membuatmu jauh. Aku yang akan menghindarimu dan menjalani hariku seperti biasa tanpa ada kamu. Tugasku disini telah usai. Aku bisa kembali ke tempatku dan tak perlu lagi bertemu denganmu. Aku hanya perlu bertahan beberapa minggu lagi.

Baca juga : Ketika Hati Dan Pikiran Tak Lagi Berjalan Kepada Siapa Aku Berpegang ?


Waktu satu tahun itu telah berlalu dan aku salah telah beranggapan takkan berurusan denganmu lagi. Untuk satu alasan, aku harus kembali ke tempat dimana kamu berdiri. Setelah kelulusanku, aku justru bekerja di tempat ini lagi, tempat yang sama yang mengantarku pada dirimu. Kamu pun masih sama, masih menungguku. Sedangkan aku? Kembali ke tempat ini tanpa ada dia lagi. Laki-laki yang dulu pernah mengisi hati ini telah pergi bersama wanita lain.

Kamu sangat pandai mengambil kesempatan, ketika kau tahu aku tak lagi bersamanya, ketika kau mendapati separuh hatiku telah kosong, kamu masuk dan membawa penawar yang aku butuhkan. Kebencianku dulu seketika hilang, aku biarkan kamu menghiburku, aku biarkan kamu menulis kisah baru dalam hariku.


Apa ini kelemahanku jika akhirnya kamu berhasil memberikan kenyamanan untukku? Kamu mampu menghipnotisku hingga aku tunduk padamu. Aku mampu melupakan dia yang menyakitiku. Apa ini salahmu jika kita baru bertemu dan mampu menciptakan kedekatan ini sekarang?



Kenyataan yang aku terima cukup menyesakkan dada. Aku telah kehilangan orang yang aku sayang. Dan kamu yang berhasil membuatku bangun dari keterpurukan itu, haruskah menambahkan luka yang berbeda? Luka yang justru lebih sakit. Kau telah bersamanya. Bersama dia yang sudah jadi belahan jiwamu, bagian dari hidupmu juga buah cintamu. Kenapa harus aku yang ada dalam cerita seperti ini. Di saat aku mulai terbiasa denganmu. Mulai bisa merasakan sayangmu, mulai bisa menerimamu bahkan mulai menyayangimu. Aku justru hadir sebagai orang ketiga. Orang yang selalu kau sembunyikan dari sorotan mata. Orang yang kau temui setelah dia.


Statusmu, Penghalang Kisah Kita


Dengan segala daya yang kau punya, kau mencoba meyakinkanku. Membuatku percaya akan semua mimpi yang kau janjikan. Kau berharap ada cara untuk kita bersatu. Tidakkah kau pikirkan betapa hati wanita sangat lemah? Setepat apapun cara yang ingin kau lakukan untuk mengakhiri dengannya pasti akan meninggalkan luka, memberikan bekas perih yang tak mudah di sembuhkan. Tak mungkin ada perpisahan tanpa luka, walau sebaik apapun sebuah akhir itu terjadi. Dan aku, apa yang ku punya? Sebilah pedangpun tak ku bawa, bagaimana mungkin aku akan menebas kasih kalian yang sudah terbina. Aku bagai kerikil kecil disini, bagaimana bisa aku yang hanya benda kecil hampir tak terlihat mampu menghancurkan istana yang sudah terbangun. Akan jadi apa aku merusak hubunganmu dengannya? Aku pun tak mau di sebut sebagai penghancur, aku sama sekali tidak ingin mendapat predikat perusak rumah tangga orang. Sungguh aku menyesali pertemuan ini. Mengapa rasa sayang ini harus timbul di saat kau telah menjadi milik orang lain.



Semua sia-sia. Banyak keraguan dariku yang ku ungkapkan padamu hampir tak kau gubris. Kamu tetap kekeh dengan pilihanmu untuk memperjuangkanku. Seberat apapun rintangannya kamu mengharapkan agar aku tegar dan kuat melewatinya. Kamu bersikeras untuk dapat bersamaku. Aku bisa apa, aku pun tak kuasa untuk mundur, karena aku menyayangimu. Tapi untuk maju pun, aku juga wanita yang bisa merasakan kesakitan yang akan dirasakan istrimu nanti.
Mungkinkah kisah ini akan terus berlanjut dan mendapatkan akhir yang bahagia?




Share this

Related Posts

Previous
Next Post »